Bapakethufail’s Weblog

KETIKA HARUS JUJUR…

Matikan Televisi Sehari Saja

Judul besar di Koran Republika Edisi Ahad 20 Juli 2008 yang berisi ajakan Matikan Televisi Sehari Saja dan kalimat yang di tulis lebih besar dan tebal “Kekerasan psikologis dalam tayangan sinetron mencapai 40 persen”. Sebuah judul dan kalimat yang sedikit menyentak dan menyadarkan kita (orang tua) akan “daya magis” dari sebuah barang yang bernama Televisi.

Saya coba paparkan dan kutip dari beberapa yang menjadi catatan dari tulisan tersebut :

Dari data Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) pada 2006 terungkap bahwa anak usia sekolah dasar punya kebiasaan menonton televise 30-35 jam per minggu plus 10 jam lagi untuk bermain video game. Setahun kemudian, YPMA kembali mencatat bahwa anak-anak negeri ini punya kebiasaan asyik menatap layar kaca hingga 1.600 jam per tahun. Padahal, waktu belajar di sekolah “hanya” 740 jam per tahun. Baca selebihnya »

Rabu, Juli 23, 2008 Ditulis oleh bapakethufail | Pendidikan | , , , , | 4 Komentar

Matikan TV dan Berbahagialah ( 2 -selesai- )

: Mohammad Fauzil Adhim

tv

Sabar. Ah… rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun.

Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki usia lima tahun. Atau… kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah payah berusaha ? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit.

Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya ? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap berfikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orang tua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungan temperamental, semakin cepatlah mereka naik darah. Baca selebihnya »

Senin, Juli 14, 2008 Ditulis oleh bapakethufail | Pendidikan | , , , , , , , , , | 21 Komentar

Hidup Bahagia Tanpa TV (# 1)

: Muhammad Fauzil Adhim

 

Setiap anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat ”mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (innerstrength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orang tua memenuhi keinginannya.

Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua tahun hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuan mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa. Baca selebihnya »

Kamis, Juli 3, 2008 Ditulis oleh bapakethufail | Pendidikan | , , , , | 9 Komentar

Tolak Sekolah

Muhammad Izza Ahsin Sidqi adalah anak dari orang tua yang menyandang predikat guru teladan. Tapi seolah bertolak belakang dengan profesi orang tuanya.

Izza keluar sekolah di usia 15 tahun bukan karena anak malas. Apalagi kekurangan biaya. Bagi mantan siswa sebuah SMP terfavorit di kota Salatiga ini, formalitas sekolah membuatnya terkekang.

Tentu saja, hal ini ditentang oleh orang tuanya. Suasana menjadi tegang,. Namun, setelah delapan bulan negosiasi, akhirnya hati orang tuanya pun luluh.

Tak lama, janji itu menjadi bukti. Izza meluncurkan buku perdananya berjudul “Dunia Tanpa Sekolah”. Buku yang diterbitkan Penerbit Read! Ini berisi biografi, ide dan kritik Izza terhadap system sekolah formal. Hingga kini bukunya telah terjual lebih dari 1.000 copy. Dan buku keduanya juga sudah siap diterbitkan.

“Belajar di sekolah yang mengajarkan banyak mata pelajaran itu ibarat menimba air dari dalam sumur dengan susah payah, lalu mengguyurnya kembali ke tempat semula,” ungkap Izza yang sejak kecil hobinya membaca buku.

Izza mengaku landasan kontroversialnya ini adalah dengan nama Allah, untuk Allah, dan karena Allah. “Mudah-mudahan buku yang saya hasilkan nantinya menjaring perhatian banyak orang. Bukan sekedar royalty, publikasi atau menjadi selebriti, melainkan agar orang laindapat memetik manfaat yang luar biasa setelah membacanya,” ungkap Izza.

“Lagipula, Allah kan tidak pernah melarangku keluar sekolah,” tambah Izza.

*Jidi al Kindi/Suara Hidayatullah

 

Sumber : Suara Hidayatullah/Juni 2008/siapa dia.

Minggu, Juni 29, 2008 Ditulis oleh bapakethufail | Pendidikan | , , , , , , | 9 Komentar

Kepasrahan

(terserah ENGKAU mau apakan)

Gelap pekat

Tak ada temaram

Suara sunyi

Tak ada bisikan

Lelap

Mimpi

Siapa penguasa malam ini ?

Siapa penguasa hening ini ?

Sendiri

Kunaiki tangga keimanan

Pada Takbir, sujud , dan rukuk

Ku robek batas langit

Pada do’a, wirid, dan keluh

Agar lebih dekat kutemukan ENGKAU

Siapa penguasa kehidupan ?

Siapa penguasa masa depan ?

kehidupan

harapan

masa depan

terserah ENGKAU mau apakan

 

Selasa, Juni 24, 2008 Ditulis oleh bapakethufail | Ketika Harus Jujur | | 3 Komentar