Kursi

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,949 tapak

PAK STAGEN begitu teman sekantornya memanggil. Seorang bapak setengah paruh baya. Tidak diketahui pasti mulai kapan teman-teman sekantornya memanggil dengan sebutan Pak Stagen. Tapi yang jelas dia pernah terkena sakit panas tinggi dan sampai tidak sadarkan diri, dan setelah sembuh ngomongnya sering nglantur seperti orang gendeng. Mulai saat itulah dia dipanggil PAK STAGEN yang merupakan singkatan dari Setengah Gendeng.

Nama aslinya PANGAREPAN. Agak susah memang untuk di tafsirkan artinya. Tapi Pak Stagen pernah cerita bahwa bapaknya dulu memilih nama Pangarepan, karena bapaknya berharap dan berdoa anaknya kelak akan menjadi pemimpin masa depan. PANGAREPAN itu berasal dari kata NGAREP yang dalam bahasa jawa artinya adalah depan. Terus sama bapaknya di tambahi PA di depannya dan AN di belakangnya biar kelihatan tidak terlalu pendek dan agak mriyayeni. “ Kamu harus selalu ada di depan le… jadi pimpinan, dimanapun kamu berada” begitu kata-kata bapaknya saat dia kelas 5 SD, tapi masih diingatnya dengan baik sampai sekarang yang umurnya sekitar 42 tahun.

“Mas, sini mas aku mau ngomong. Banyak banget yang mau tak omongin sama kamu” tiba-tiba Pak Stagen memanggilku.

“Waduh…. bisa lama ini urusannya. Bisa nglantur kemana-mana..” begitu dalam benakku.

“Sudah sana, pak stagen udah gak tahan tuh…. layani saja omongannya tuh, sampai dia orgasme” kata salah satu temanku yang sudah cukup lama sekantor dengan dia.

“Kalau sama kami-kami ini dia sudah tidak bernafsu untuk memberikan khotbah dan omongannya yang sering nglantur itu, karena kalau dia ngomong, kami-kami jadi ngantuk dan tidur. Dan kamu kan orang baru di kantor ini… jadi pasti udah nggak tahan pingin menumpahkan uneg-unegnya sampai puaaas ke kamu” begitu teman satunya lagi menimpali.

“ ha ha ha…….”

Semua yang ada di ruangan, sekitar Sembilan orang pegawai tertawa mendengarnya. Tapi Pak Stagen tidak menunjukkan ketersinggungan apalagi marah. Wajahnya biasa saja. Dingin. Baginya ledekan semacam itu adalah hal biasa ,yang tiap hari didengarnya.

Aku melangkah dan duduk tepat di depannya. Kulihat raut wajahnya. Ada kerutan-kerutan di dahi, yang sehingga menampakkan wajah lebih tua dibanding usianya. Mungkin terlalu banyak beban pikiran. Atau mungkin istrinya sudah tidak lagi merawatnya. Atau mungkin….. sudahlah, aku hentikan prasangka-prasangka itu.

“Umurmu berapa mas ?” dia membuka pembicaraan.

“dua puluh dua tahun” jawabku pendek.

“Hmm masih muda, masa depanmu masih panjang. Berarti kita beda 20 tahun” gumamnya

“Aku bingung melihat orang-orang itu” lanjutnya sambil sedikit mendongakkan kepalanya, sehingga tidak jelas siapa yang di tunjuk. “Hidupnya nganeh-anehi, ngomong kemana-mana beragama tapi yang dikejar dan dibangunnya hanya dunia semata. Lha mbok akhiratnya itu juga di pikir. Karena mereka menganggap dunia itu tujuan hidupnya…. kan harusnya hanya sebagai sarana. Jabatan di kejar-kejar, kesuksesan begitu diharapkan, popularitas, nama besar, pingin membangun sejarah…….. apa dia tidak sadar, sejarah itu umurnya Cuma berapa tahun sih…. habis itu hilang dan dilupakan. Mereka itu mas…. juga njalani sholat malah sudah jadi kaji tapi kalau sudah kerja dan ngurusi ndonya, Gusti Allah di umpetke. Sholawatane yo di lakoni, tapi pas njalani hidup sebenarnya malah Kanjeng Nabi di borgol dan dimasukkan sel-sel tahanan. Yang seharusnya jadi tauladan dan pegangan malah di tinggalkan… Mereka anggap semua yang di dapat termasuk jabatan adalah prestasi, mereka tidak sadar bahwa yang di genggamnya adalah amanat yang harus di jalankan dengan hati-hati karena nanti Gusti akan nagih janji”.

Pak Stagen semakin bersemangat, wajahnya lebih cerah. Mungkin sudah ada yang sedikit ditumpahkan uneg-unegnya, sehingga beban pikirannya agak berkurang. Kemudian dia meneruskan kata-katanya….

“Belum lagi masalah kursi mas… lha kursi kok di cari-cari. Di kejar-kejar… malah sampai ngimpi-ngimpi. Lambang Kedudukan dan jabatan katanya. Malah katanya lebih nggak masuk akal, “kursi itu bisa melahirkan uang sangat banyak”. Edan to mas. Yang bisa melahirkan itu ya Cuma manusia dan hewan. Lha wong tidak bernyawa, hanya terbuat dari kayu mungkin juga besi…. kok bias melahirkan. Nggak masuk akal mas… ora masuk akal. Manusia melahirkan manusia, kucing melahirkan kucing, tikuspun melahirkan tikus. Belum pernah ada manusia melahirkan kucing, kucing melahirkan tikus, tikus melahirkan manusia atau terus di puter-puter…. jelas tidak mungkin to. Kalaupun kursi dipaksa-paksa melahirkan…… ya harusnya yang di lahirkan kursi juga…”

Pak Stagen semakin berapi-api… dan kata-kata yang terus muncul dan mengalir deras…

Oke lah kita paksakan pada pemahaman kita bahwa kursi itu bernyawa…. Hati-hati mas, bener mas hati-hati kalau dekat dengan yang namanya kursi.

Kali ini mukanya tampak serius… mengisyaratkan agar pesan melalui kata-kata yang akan disampaikan agar di perhatikan.

Dia akan bersolek. Pakai pupur dan gincu. Pakai pakaian seksi. Dan bisa dibayangkan dia menggoda… Ketika dia telanjang dan memancarkan syahwatnya…. kamu akan silau dan akhirnya buta. Syaraf penglihatan akan selalu salah saat melihat suatu permasalahan yang sebenarnya. Perlahan kamu akan kehilangan kebenaran yang kamu yakini. Yang tadinya kamu hanya akan berkenalan, paling banter ngobrol sebentar untuk basa basi… Tidak yakin kamu bisa menahan nafsu kerendahanmu. Kamu akan ngeloni, di peluk-peluk terus… dan di lirik temanmu saja kamu akan cemburu. Akhirnya kamu kawini, karena harapanmu akan melahirkan anak-anak berupa materi sebagai kewibawaanmu.

Hati-hati mas, bener mas hati-hati kalau dekat dengan yang namanya kursi. Komputer dan kalkulator akan dirusaknya. Kamu coba kalikan lima kali lima pasti munculnya tidak mesti dengan duapuluh lima, karena hasilnya sangat tergantung bagaimana kursi itu punya keinginan dan kemauan. Belum lagi kalau dia bernyanyi, suaranya keras menggelegar. Dan gendang telingamu pasti pecah dan rusak, sehingga kamu tidak bisa mendengarkan kebaikan dan kebenaran lagi. Tuli kamu mas… tuli… budeg.

“tu kan…. mulai nglantur kan… Gendengnya keluar kan….” kata salah satu teman di ruangan itu. “Kalau udah capek meladeni tinggal saja mas, biar saja dia mencari kepuasan dengan ngomel dan nggrundelnya sendiri, atau di tinggal tidur juga ngak apa-apa… percayalah lama-lama juga berhenti sendiri”

Aku hanya tersenyum, dan sebenarnya sungguh tertarik dengan yang di omongkan Pak Stagen. Mendengar omongannya seperti membaca bukunya emha ainun nadjib.

Terus Pak Stagen ngomel dan menjelaskan tentang kursi… jabatan… kekuasaan…. materi………..

“Tapi mas…” Pak Stagen melanjutkan kata-katanya. Namun sudah mulai bergetar, melemah dan pelan… “Kalau mas sudah sangat faham kezuhudan, jiwa mas sudah dekat dengan ketenangan…. Gusti Allah sudah di nomor satukan dan Kanjeng nabi dijadikan panutan, mikir akherat, mikir Gusti bakal nagih janji……… “

Tiba-tiba omongannya terhenti, kelihatan ada sesuatu yang menahan di kerongkongannya. Matanya berkaca-kaca… perlahan ada air yang menetes dari matanya pada kedua pipinya…. dia berdiri, kemudian lari keluar ruangan….

Dan sampai saat ini Pak Stagen tidak pernah masuk kantor lagi….

:Bapakethufail/Ruang pojok-Agustus2008


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: