Beranda » Pendidikan » Buah Dari Emosi Sang Ayah

Buah Dari Emosi Sang Ayah

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,948 tapak

Oleh Neno Warisman

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu
kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar
mirip denganmu ya!” Suamiku menjawab: “Bukankah
sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki
ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali
bekerja seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku
mengusulkan perayaannya dengan mengkhatam kan Al Quran
di rumah Lalu kubilang pada suamiku: “Supaya ia
menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah.” Suamiku menatap
padaku seraya pelan berkata: “Oh ya. Ide bagus itu.”

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti
panggilan Rasulnya. Tidak berapa lama, ia sudah
pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa. Apppaa.
Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat!
Maksudnya ia Ahmad. Kami berdua sangat bahagia dengan
kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya.
Pelajaran matematika sederhana sangat mudah
dikuasainya. Ah, papanya memang jago matematika. Ia
kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di
bidang Matematika.

Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang
keluarga. Berdandan rapi kami semua. Tibalah saat
Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan. Tiba-tiba ia
minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang
menyebabkan papanya begitu berang, mungkin menganggap
Ahmad sudah sekolah, sudah terlalu besar untuk main
kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia
kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah,
tangisnya pecah, Muhammad terluka hatinya di hari
ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu, Ahamad jadi
pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia
tak lagi suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah
marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku.
Ia sedang menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu
oleh urusan seremeh itu, katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah
selesai S1. Pemuda gagah, pandai dan pendiam telah
membawakan aku seorang mantu dan seorang cucu.
Ketika lahir cucuku itu, istrinya berseru sambil
tertawa-tawa lucu: “Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas,
persis seperti kulitmu!”

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan
merasa malu. “Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan.
Kalau lelaki ingin seperti aku!”

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang
pedih di hatiku. Ada yang mencemaskan aku.

Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu. Kami, nenek dan
kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong
ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah
sambil berteriak menghentak, “Ah, gimana sih, kok
nggak dikasih pampers anak ini!”. Dengan kasar
disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana.
Ahmad, papa bayi ini, segera membersihkan dirinya di
kamar mandi. Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut
dalam pedih duka seorang istri dan seorang ibu. Aku
tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini. Pecahlah
tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya. Aku
rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya:
“Dulu kau hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun
ke lima, kau ingat?, Kau tolak ia merangkak di
punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, Kau
bilang kau sibuk sekali. Kau dengar ? Kau dengar
anakmu tadi ?? Dia tidak suka dipipisi. Dia asing
dengan anaknya sendiri !!”

Allahumma Shalli ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi
wassalaam. Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi !!!.
Engkau membopong cucu-cucumu dipunggungmu, engkau
bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan
menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati.
Dan engkau pula yang berkata ketika seorang ibu
merenggut bayinya dari gendonganmu, “Bekas najis ini
bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf
halus yang putus di kepalanya ??”

Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang
anakku yang tegak diam bagai karang tajam. Kupandangi
keduanya, berlinangan air mata. Aku tak boleh berputus
asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?

(Dari sebuah millis)


8 Komentar

  1. Ivana mengatakan:

    cerita yang bagus dan menggugah,mas…

  2. bayu200687 mengatakan:

    ah…indah sekali pak…
    pelajaran berharga…
    jazakalloh

  3. josenetmail mengatakan:

    Ceritanya mengingatkan pada anak Saya yang masih berusia 4 tahun dan masih lucu2nya. Mudah2an Saya tidak akan menyakiti hati anak Saya sampai dipendam bertahun-tahun.

  4. quantumeconomics mengatakan:

    artikel yang sangat menarik…
    kunjungi blog saya, baca dan analisa secara seksama dengan pikiran yang positif..
    jangan ambil keputusan sebelum menganalisanya.
    saya berharap kita dapat meraih kemapanan finansial bersama.
    amin

  5. Catatan Muslim mengatakan:

    :-)) Doa orang tua merupakan ridho bagi sang anak…..!!

  6. rhadhia mengatakan:

    Cerita yang bagus dan pantas jadi bahan renungan bagi kita para orang tua.. ngeblognya aktif juga ya pakde.. makasih sudah sering berkunjung ke blognya rhadhia..

  7. andi mengatakan:

    Kesalahan sekecil itu ternyata berdampak luar biasa ..😦
    Jadi ingat dengan anakku dirumah yang sedang sakit😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: