Duka Pasuruhan

Sekedar Mengenang, mudah-mudahan tidak terulang…

Iklan

18 tanggapan untuk “Duka Pasuruhan

  1. Innalillah…ironi, wakil rakyat kelebihan segalanya, rakyatnya melarat, kan krn melarat ya org2 mati2an begini. Oh Tuhan..

    salam kenal mas, makasih sudah mampir ya

  2. nurani wartawan ? wah.. mana punya… eh..mungkin sebagian wartawan ada yg punya nurani, tapi jumlahnya sepertinya nggak banyak deh..

    iya nih, korbannya koq perempuan semua ? jangan2, zakat-nya itu emang utk para wanula ya ?..

  3. semoga si pemberi zakat sadar dan mulai percaya untuk menitipkan sebagian hartanya baznas atau lembaga pengelola zakat lainnya. Selain untuk menghindari korban juga menghindari sifat riya
    naudzubilahi min dzalik

  4. Tak perlu mencari siapa yang salah…
    Tapi itu adalah sebuah pembelajaran bagi negeri ini yang masih jauh tertinggal
    jangan salahkan wartawan,..
    Tp ketika saya liat ditelevisi, banyak wartawan yang nolong para ibu dan anak-anak keluar dari kerumuman..

  5. Dari tragedi ini, memang kita harus memperoleh pembelajaran. Menurut saya mencari letak kesalahan (bukan ‘siapa yang salah’) adalah perlu, bukan untuk mencari kambing hitam, tetapi bagaimana kita bisa memperbaiki kalau tidak tahu salahnya dimana?

    Mengenai korban (dan pengantri zakat) yang semuanya perempuan, saya lihat liputan di Metroteve, karena pemberian zakat ini diumumkan lewat radio dan disebutkan bahwa zakat diberikan kepada wanita, diutamakan ibu rumah tangga.

    Saat ini sudah banyak badan amil zakat yang akan mengelola zakat kita dengan baik. Mereka punya program yang terpadu, dan tahu betul siapa yang berhak menerima zakat kita. Alangkah baiknya kalau zakat kita diserahkan kepada badan-badan ini.

  6. Turut berduka atas tragedi Pasuruan. semoga sodara2 kita yang meninggal dalam tragedi itu amalnya diterima Allah SWT, dan dosa2nya di ampuni, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, amin.
    Harapan saya, tragedi ini menjadi pelajaran buat kita, terutama pemerintah supaya berpikir bagaimana mengelola zakat dari masyarakat lebih optimal tanpa harus menelan korban.

  7. kita tidak perlu menyalahkan siapapun. yang terjadi adalah peringatan untuk kita semua. memberi zakat, bukan menasbihkan seseorang menjadi lebih baik dari penerima zakat. zakat sendiri punya makna berbagi, ada hak mereka diantara rejeki yang kita miliki. bukankah untuk berzakat pun kita harus bertanya terlebih dahulu, apakah calon penerima bersedia menerima.

    hei…kemana sih manusia2 yang mengaku dirinya ustad? dimana peran mereka? alangkah lebih tragisnya dari kejadian di pasuruan itu, tatkala mui setempat mengatakan itu haram…apakah sedangkal itu?apakah semudah itu? dimana mereka? kemana mereka dalam pemberian pemahaman?

    masih kah tidak malu, menggelari diri sendiri dengan ustad, kiayi, nyai…atau apalah…whatever….!

  8. ini peringatan untuk bersama, ini adalah tugas bersama agak tidak akan terjadi lagi kedepannya.

    Bukan hanya untuk si miskin tapi juga untuk si kaya..bahwa banyak cara yang lebih mulia ..dari pada apa yang di lakukan dengan memberi uang apa adanya.

  9. ga menyangka sebegini nelangsanya ratyat indonesia, kadang yang berkecukupan ngaku susah, yang susah tambah susah, yang kaya tutup mata, ah…emang harus dari kesadaran diri masing2 deh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s