Kepala

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,949 tapak

Lho… kepalaku dimana ??? sebelum tidur tadi masih utuh, lengkap…. lha ini kepala kok nggak ada. Aku cari di seluruh kamar, lemari pakaian, kolong tempat tidur, hasilnya nihil. Aku keluar kamar, kubuka lemari buku, rak2, kamar anak-anak… sampai dapur. Tidak aku temukan juga kepalaku. Aku bangunkan istriku, dan dia terperanjat, “lha kepala bapak kemana? Kok nggak ada”

“sudahlah aku sendiri nggak tahu, sekarang bantu bapak untuk mencari kepala”.

Istriku sibuk ikut mencari kepalaku yang lepas dan hilang.

Sudahlah pak, biarin aja lah… mungkin kepala bapak sudah tidak betah nempel di tempatnya…. lagian seberapa penting sih bagi bapak arti sebuah kepala.

Ngawur kamu ini buk, ya penting lah…. bisa dibayangkan bapak ini… suamimu ini tanpa kepala. bagaimana bapak bisa di katakana wudhu kalau tidak berkumur di mulut, membasuh muka, membasuh telinga, dan rambut…. dan itu semua ada di kepala. Dan bagaimana shollat akan menjadi sempurna bila dahi tidak menempel ke tanah dalam sujud…. sementara dahi adanya Cuma di kepala. Bapak tidak bias berfikir dan berasional lagi buk… bapak kehilangan kepala… berarti kehilangan se otak-otak nya. Kalau bapak mau usul pada suatu rapat rt, bapak hanya bias diam karena mulut hilang berbarengan dengan hilangnya kepala.

Istriku hanya diam, menatap tapi tidak menunjukkan adanya kesedihan karena hilangnya kepalaku.

Ibuk ini bagaimana sih… lha agak sedih gitu lo… suami kehilangan kepala kok biasa-biasa saja… prihatin sedikit lah buk, minimal tunjukkan lewat raut muka ibuk itu….

Istriku senyum-senyum dan bergumam…. “kepala, berharga banget kelihatannya… masak sih segitu pentingnya sebuah kepala”

“Coba ibuk bayangkan kalau bapak tidak berkepala…. ketika berangkat kantor orang-orang akan melihat dengan herannya dan bertanya-tanya… “ eh, bapak itu tidak punya kepala ya… kok bias ya…. terus bagaimana bapak itu bias kerja… tidak punya kepala aja kok masih sempet-sempet nya berangkat kerja…. mau pamer ya…. biar dikasihani banyak orang ya….. bangga banget sih jadi manusia tidak berkepala ?”. “ terus bapak harus jawab apa buk ?”

“Ibuk bayangkan lagi kalau bapak dapat jatah ronda dan pingin nongkrong dengan tetangga…. orang-orang akan ngomong… eh bapak, bapak kelihatan ganteng ya bila tidak berkepala…. coba buk… itu kan sindiran yang luar biasa. Masak sih dia harus ngomong ganteng bila tidak berkepala. Yang namanya ngganteng itu kan ketika rambutnya indah, mukanya bersih, raut wajahnya menarik…. dan semua itu adanya di kepala.”

“Terus nanti bagaimana dengan anak –anak kita, dia tidak akan bangga lagi dengan bapaknya. Karena bapaknya tidak sebagaimana bapak-bapak yang lain. Terus teman-temannya akan ngledek… eh… bapakmu tidak punya kepala ya…. pruthul ya…. kepalanya jadi hantu ya…. jadi hantu gundul pringis… gundule ngglundung pringas pringis… apa mereka tidak malu buk?. Apa kehidupan social mereka kelak akan tidak terganggu ?”

“Lha kalau memang sudah hilang, sudah dicari kemana-mana nggak ketemu…. terus bagaimana pak. Lha mbok sudah di ikhlaskan saja, lha Cuma kepala aja kok pak-pak…. dan dia juga yang bikin kehidupan ini tidak nyaman, tidak tentram, dan suka bikin fitnah. Dan maksiat itu pun biasanya dating dari kepala…”

“Tidak nyaman bagaimana, tidak tentram bagaimana. Mana mungkin kepala menciptakan fitnah, justru ibuk itu yang memfitnah kepala yang mengomandani kemaksiatan. Itu fitnah buk… kepala tidak bernah menjadi penyebab dan asalnya maksiat”

“Bagaimana tidak pak…. bapak sadar nggak apa saja yang selalu menempel di kepala. Mulut…. mulut adalah corong bagi bagi organ kita semua, corong kesombongan, corong kebohongan, corong keingkaran, corong caci makian,… dan dia begitu akur dengan lidah…. sehingga pelarian diri dari tanggung jawab orang akan menyebutnya dengan bersilat lidah.”

Aku kaget, sangat kaget… tiba2 istriku yang biasanya pendiam sekarang begitu banyak kata-kata yang muncul darinya

“Sekarang mata… mata begitu banyak digunakan untuk melihat hal-hal yang tidak selayaknya. Kemungkaran, perzinahan adalah dari mata berangkatnya. Apakah bapak pernah melarang mata ketika melihat paha mulus seorang wanita, lebih2 ketelanjangan seorang wanita…. pernahkah. Pernahkan bapak mencoba menghentikan dan memerintahkan agar mata segera di pejamkan ketika melihat banyak orang-orang yang makan yang bukan dari haknya… pernahkah bapak pejamkan. Apalagi mengharuskan menyuruh mata untuk melaporkan ke otak biarlah otak yang memberi tugas ke tangan untuk menghentikannya.”

“Kok ibuk jadi marah-marah begitu…. sebenarnya apapun yang di lakukan di organ kepala sudah aku ingatkan dengan hati ini buk… tapi tetap tak mampu… , ya sudah kalau ibuk nggak mau ikut mencarinya. Jangan ngomel-ngomel begitu…”

“Tidak pak… masih ada yang harus aku omongkan. Soal telinga…. sudahkah bapak ajarkan tentang apa-apa yang boleh dan tidak untuk di dengarnya ? Selama ini dia dipakai hanya untuk mendengarkan hal-hal yang keji, hal-hal yang membuat sakit hati, hal-hal yang sebenarnya adalah kemubadziran… Sedangkan petuah, taujih, petunjuk dan saran-saran yang baik selalu di jauhkan darinya…”

Apalagi hidung…. yang wangi di laporkan ke otak dan disuruhnya ke mulut untuk mengatakan bau busuk. Sementara bau bangkai di mintakan ke otak dan di suruhnya mulut mengatakan wewangian.”

Belum lagi rambut,…

Sudah buk… sudah. Cukup…. cukup buk cukup. Jangan di teruskan…

Kami berdua diam… aku lihat matanya mulai sembab dan perlahan menetes ke pipinya… air mata kejujuran… air mata ungkapan hati…

Tapi tiba-tiba kami tersentak, pintu di ketuk dan salam dari suara yang sangat tidak asing bagi kami… Suara dari kepala kami yang hilang…

Maaf aku Cuma jalan2 sebentar…. nyari angin.

bapakethufail/pondokbambu/juli2008


17 Komentar

  1. moumtaza mengatakan:

    🙂 asyik dan unik, tapi bagaimana pembicaraan ini terjadi tanpa kepala ya ?

  2. surya hr hesra mengatakan:

    salam…

    tulisan yang kocak dan menyentil. mengingatkan saya akan sebuah buku kurt vonnegut; gempa waktu.

    ada yang menarik mengenai penggambaran indera, sukses menyentil pembaca.

    hezra

  3. Defi mengatakan:

    kena banget, Pak! tapi bener juga kata moumtaza, tu. gmn pembicaraan itu bs terjadi tnp kepala? he..he..

  4. trendy mengatakan:

    saya baca cerita anda lagi nggak pake kepala!
    wekekekekek!

  5. sakuragirl mengatakan:

    makasih dah mampir di blogQ… moga tetep sehat dan sukses. kalau pengen tau tips-tips kesehatan kunjungi blogku yaa… he3 numpang promosi ga papakan..😀

  6. salifameera mengatakan:

    kepala, asal ada isinya aja, hehehe…

  7. Hellen mengatakan:

    hehehe… bagian akhirnya lucu banget…
    Tapi memang suatu gambaran kehidupan manusia yang seringkali terjadi. Bagian tubuh terutama di kepala yang masing2nya sudah memiliki fungsi kadang tidak terpakai dengan benar…. yang malah mendatangkan dosa pada kita sendiri…
    Sangat berguna ceritanya pak… suatu bahan perenungan🙂

  8. Yogie mengatakan:

    Ahahahahahaha…..

    ada-ada aja…
    tapi keren kok🙂

  9. namakuananda mengatakan:

    Ketika salah satu sistem (kepala) hilang/tidak berfungsi, komponen lain (mata, hidung, telinga, mulut, rambut dan semua komponen kepala) tidak ada artinya.
    Tetapi ketika salah satu komponen tidak berfungsi dengan baik, sistem itu masih bisa berjalan dengan baik, dengan catatan – tunduk kepada-Nya.

  10. hakimaza mengatakan:

    ‘Tanpa kepala’, manusia masih mampu untuk hidup mulia dan berguna untuk lingkungannya. Ia masih mampu untuk beramal sholih dan hidup beradab.
    Manusia tanpa hati lah yang akan mencelakakan orang di sekitarnya, berbohong, memfitnah, mengambil yang bukan haknya.
    “Di dalam tubuh terdapat segumpal daging, bila ia baik, baiklah seluruh tubuh, bila ia jelek, jeleklah seluruh tubuh. Ingatlah, ia adalah hati”

    ** Pak, kali lain kalo kepalanya sedang jalan-jalan atau shopping, jangan berangkat ronda dulu deh… ijin, cuti atau apalah…. apa lagi jatah rondanya pas malam Jum’at kliwon… kan bikin ….. hiiiiii….. atuuu…t🙂

  11. Rudra mengatakan:

    Wah, tidak logis tapi menyentuh sisi kehidupan manusia. kebayang gak sih kalau semua organ tubuh kita punya kesadaran masing-masing dan memiliki kemampuan memilih empunya. Atau bahkan menjadi sebuah kumpulan kesadaran kolektif yang mendapat kontribusi dari setap organ

  12. marsudiyanto mengatakan:

    Mungkin Kepalanya Mas Imam sudah jadi Kepala Desa…

  13. […] Mungkin Kepalanya Mas Imam sudah jadi Kepala Desa… Nomor Telepon Sekolah Kesetaraan di Jakarta 93088375 – 08161404440 dengan penyelenggara langsung MBA… […]

  14. timur matahari mengatakan:

    menarik
    tulisan yang indah
    aq singgah
    mencari kawan
    rindu berteman
    semoga

  15. […] Kepala Lho kepalaku dimana ??? sebelum tidur tadi masih utuh, lengkap . lha ini kepala kok nggak ada. Aku cari di seluruh kamar, lemari pakaian, kolong tempat tidur, hasilnya nihil. Aku keluar kamar, kubuka lemari buku, rak2, kamar anak-anak sampai dapur. Tidak aku temukan juga kepalaku. Aku bangunkan istriku, dan dia terperanjat, lha kepala bapak kemana? […] Posted by admin teknisi komputer Subscribe to RSS feed […]

  16. Bunda Pacific mengatakan:

    Hahaha..kocak banget. Kepala bisa cari angin sendiri. Pak jawab dung gmn pembicaraan itu bisa terjadi tanpa kepala? Penasaran ni..😀

  17. zaldy munir mengatakan:

    Wah…tulisannya Ma-nyuss, he…hee…heee

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: