Beranda » Artikel » autisme » Mengatasi Kesulitan Siswa Autistik Saat Belajar di Kelas

Mengatasi Kesulitan Siswa Autistik Saat Belajar di Kelas

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,948 tapak

Satu lagi postingan perihal Anak Autis yang di dapat dari www.autisme.or.id dengan judul Mengatasi Kesulitan Siswa Autistik Saat Belajar di Kelas . Postingan ini juga kami copy paste karena untuk menjaga keutuhan dari isi tulisan. Monggo silahkan di baca :

 

 

Siswa autistik sering harus berjuang keras agar dapat tetap duduk, tetap fokus, dan bertahan dalam mengerjakan tugas. Namun dengan dukungan serta penyesuaian yang tepat, siswa-siswa ini mampu meningkatkan waktu mereka fokus sambil tetap merasa nyaman bahkan pada saat diberikan instruksi dengan durasi lebih lama. Dalam artikel ini, lima pilihan diberikan untuk membantu para siswa ‘bertahan’ dalam situasi seperti tersebut diatas.

  1. Berikan mereka kesempatan untuk ‘menyibukkan diri’
    Beberapa siswa dapat bersikap lebih tenang bilamana mereka memiliki obyek tertentu untuk dimanipulasi sepanjang pelajaran berlangsung. Ada yang senang mencabuti benang dari secari kain, ada yang melipat-lipat sedotan yang dapat dibengkokkan, ada juga yang berulang kali melipat-lipat kertas membentuk berbagai jenis origami yang menarik.
    Mereka yang memiliki kebutuhan seperti ini, bisa ditawarkan untuk memegang bola lentur yang dapat ditekan-tekan, sedotan, rangkaian manik-manik, karet gelang, ataupun gantungan kunci yang memiliki banyak gantungan. Bila mungkin, berikan pada siswa benda-benda yang berkaitan dengan isi materi pembelajaran. Misal, siswa yang senang menggenggam bola, berikan ia bola berbentuk globe pada saat seluruh kelas sedang belajar tentang bumi. Sambil anak diberi kesempatan untuk melepaskan stres-nya, guru melakukan tanya jawab sederhana seperti ‘kamu sedang menekan negara apa sekarang?’ sehingga anak memperhatikan negara-negara yang ada pada globe tersebut. Atau…seorang siswa yang menggunakan kubus-kubus yang bisa dikaitkan untuk melepaskan tresnya, diajak untuk belajar berhitung dengan menghitung kubus-kubus yang sering ia mainkan tersebut di saat sedang proses belajar individual.
  2. Perbolehkan mereka untuk menggambar atau mencoret-coret
    Memperbolehkan siswa menggambar juga merupakan teknik yang cukup efektif. Sayangnya hal ini sering dipandang sebagai perilaku ‘menghindari tugas’ oleh para guru. Banyak pelajar dengan kebutuhan maupun tidak, tampaknya lebih mampu berkonsentrasi pada sebuah pembelajaran atau aktifitas ketika mereka diberikan kesempatan untuk menggambar di sebuah buku notes, menulis di buku mereka, membuat sketsa, atau bahkan (tergantung usia mereka) mewarnai sebuah kertas kerja.
  3. Biarkan mereka berjalan-jalan
    Beberapa siswa bekerja lebih baik bila mereka boleh beristirahat diantara serangkaian tugas, dan boleh melakukannya dengan gaya mereka sendiri (berjalan-jalan, meregangkan tubuh, atau sekedar berhenti bekerja). Adapula yang perlu beristirahat dengan berjalan selama beberapa detik sampai 15-20 menit. Siswa bahkan ada yang perlu berjalan sepanjang gang di sekolah sekali atau dua kali, sementara beberapa yang lain cukup senang bila boleh berjalan di dalam kelasnya sendiri. Guru-guru yang khawatir siswanya kehilangan waktu pembelajaran, bisa memberikan siswanya tugas yang berkaitan dengan materi justru pada saat siswa sedang berjalan kesana kemari. Misal, guru sebuah kelas meminta siswanya melakukan riset di perpustakaan pada saat siswanya tersebut sedang mengambil istirahat sambil berjalan-jalan itu.
    Guru lain yang menyadari pentingnya gerakan yang sering serta adanya interaksi memutuskan untuk menawarkan “kesempatan bergerak” kepada semua siswa. Ia secara berkala memberikan siswa-siswanya bantuan untuk berdikusi (misal, Apa yang kalian tahu tentang bursa efek? Apakah itu statistik?) dan lalu mengarahkan mereka untuk ‘berjalan dan bicara’ kepada seorang siswa lain. Sesudah 10 menit bergerak, ia mengumpulkan siswanya kembali lalu menanyakan kepada mereka berbagai hal sehingga terjadi diskusi hasil percakapan mereka.
  4. Beri pilihan tempat duduk
    Tempat duduk yang tepat mungkin bukan hal pertama yang dipertimbangkan guru ketika ia membuat perencanaan bagi siswa autistik. Tetapi untuk beberapa siswa, jenis perabot kelas yang tepat menjadi kunci utama keberhasilan dan kenyamanan mereka.
    Salah satu siswa saya tidak dapat mentolerir duduk di kursi yang keras yang ada di setiap kelas, sehingga gurunya membiarkannya membawa bantal ke dalam kelas. Siswa lain sering memilih duduk di lantai (dimana ia bisa menyangga dirinya dengan dua bantal besar) sehingga beberapa kali sehari ia diperbolehkan duduk di “sarangnya” (begitu nama yang ia berikan bagi tempat duduknya yang unik tersebut) atau di mejanya (dimana ia duduk di atas bantal kecil). Memberikan beberapa pilihan tempat duduk di kelas dapat meningkatkan pengalaman belajar semua siswa. Pilihan tempat duduk sangat menarik bagi semua siswa. Antara lain: sofa, kursi goyang, tempat duduk dengan bantalan, bantal-bantal atau alas duduk di lantai dan sebagainya.
  5. Minta bantuan pada siswa tersebut
    Tergantung usia siswa, guru bisa meminta siswa menjelaskan keadaan dan mencari tahu apakah ia memiliki ide-ide untuk memperbaiki keadaan. Salah satu siswa ditanya apa yang dapat dilakukan para pengajar menghadapi kecenderungannya untuk ‘mudah bergerak’ sepanjang 20 menit di akhir hari setiap harinya. Siswa lalu mengatakan bahwa bila ia diperbolehkan mengisap permen, ia akan bisa merasa lebih santai dan bisa terus duduk di kursi. Tim pengajar tertawa dan mulanya tidak percaya, menduga bahwa anjuran tersebut hanyalah akal-akalan saja. Tapi begitu hal ini dilaksanakan, siswa tersebut memang berhasil duduk diam sehingga tidak mengganggu siapapun.
    Bila siswa autistik belum mampu berkomunikasi, para guru bisa meminta bantuan keluarga. Biasanya orangtua dengan suka rela berbagi tips yang mereka lihat berguna menghadapi situasi serupa di tempat lain. Bila perlu, mereka diminta untuk mengamati situasi kelas sebelum diminta memberikan usulan.

3 Komentar

  1. Andy MSE mengatakan:

    Sepertinya setelah tua ini saya justru kena autis pak!.. Otak sering berkutat dengan diri sendiri, sosialisasi berkurang… Piye jal ki?

  2. trendy mengatakan:

    kata temen saya itu orang yang autis…pantesan mereka biarin saya melakukan segala apa yang saya ingin kan seperti yang anda ceritakan!
    wekekekekekek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: