Pembelajaran Demokrasi di Sekolah

Apa yang sudah kita ajarkan tentang DEMOKRASI pada anak2 kita. Mungkin kita (saya aja kali..!!!) tidak pernah terfikirkan untuk melakukan itu. Padahal sesuatu yang penting bagi mereka, karena merekalah generasi masa depan, generasi pemimpin, generasi pengelola demokrasi negeri ini.Sehingga untuk kesekian kali saya begitu angkat jempol dengan sebuah “sekolah” yang mengajarkan tentang demokrasi kepada siswanya, yang saya baca di blog sekolah (http://sekolahalamarridho.wordpress.com) dengan judul PRESIDEN dan PRESIDEN

Ada beberapa runtutan proses yang di lakukan sebagaimana meniru proses pemilu dan pilkada :

1. Seperti layaknya memilih Presiden, dibentuk sebuah lembaga pemilihan mirip KPU. KPU ala siswa ini diisi oleh anak-anak kelas IX, ada ketua dan sekertarisnya serta Penasehatnya (dari GURU sekolah).

2. Dibentuk pedoman Pilpres Siswa. : 1) Tahap-tahapan Pemilu, dan 2). Kriteria Presiden dan Wapres Siswa.

(Untuk kriteria, paling tidak seorang calon Presiden Siswa harus memnuhi kriteria sebagai berikut : 1). Murid kelas VII atau VIII, 2) hafal minimal 1/2 jus AlQuran, dan 3) Telah sampai pada Buku 2 Qiroaty untuk Bacaan Quran.)

3. Diadakan pemilihan awal, KPU siswa ini juga telah berhasil menyaring 4 paket kandidat Capres dan cawapres.

4. Dijadwalkan kampanye untuk para kandidat yang akan diselenggarakan pada 8 September 2008. Dan Hari-H Pencoblosannya, insyallah pada Senin, 15 September 2008.

5. Dijadwalkan sosialisasi sekaligus sebagai bahan kertas suara pemilihan nanti.

(Semua antusias dan bersemangat. Siapa calon yang terpilih memang penting, tapi lebih penting lagi adalah proses atau pengalaman yang mereka dapatkan selama terlibat dalam Pilpres Siswa ini. Bersuara dalam rapat, menjurnal hasil rapat, masuk ke kelas-kelas dan mensosialisakan hasilnya, menggunaan perangkat TIK untuk membuat iklan Pilpres, termasuk bagaimana caranya berkampanye atau meyakinkan para voters, adalah pengalaman berharga buat para siswa).

6. Dibentuk dari beberapa person KPU secara nonkelembagaan, akan mengadakan polling capres favorit via sms. Bagi calon terfavorit, akan dihadiahi sebuah Flashdisk 1Gb.

(Dari pendidikan politik ala sekolah ini, paling tidak bagi siswa pada umumnya, mereka ‘dilatih’ untuk mempertanggungjawabkan suara yang diberikannya. Kepada siapa suara diberikan? Dan untuk alasan apa? Itu adalah pertanyaan yang sama yang harus dijawab, tidak saja oleh siswa tapi juga oleh seluruh voters, termasuk nanti publik di Pilpres 2009)

Postingan asli dapat di buka di : http://sekolahalamarridho.wordpress.com/2008/09/04/presiden-dan-presiden/ dan kita tunggu hasilnya nanti.

Iklan

39 tanggapan untuk “Pembelajaran Demokrasi di Sekolah

  1. Saloet boeat itoe sekolah jang bikin kegiatan sematjam ini. Tapi djanganlah poela fikiran anak-anak kita ditjekoki dengan tjara-tjara politik orang-orang negerinja jang selaloe tak bisa terima perbedaan antara satoe orang dengan jang lainnja..
    Salam sadja dari saja 🙂

  2. gagasan yang bagus dan visioer, pak. memang sudah saatnya anak2 diperkenalkan nilai2 demokrasi secara benar sejak dini agar mereka bisa belajar bagaimana cara menghargai perbedaan pendapat. tentu saja, praktik pembelajarannya tdk bersifat teoritis, apalagi indoktrinatif, tapi bener2 dihadapkan pada praktik demokrasi seperti yang mereka lihat dalam konteks kehidupan sehari2. contoh yang dipaparkan pak imam bisa menjadi salah satu modelnya. salut banget dg idenya, pak.

  3. Kadang “demokrasi”, “kejujuran”, dan perilaku baik lainnya cuma terpajang rapi di “teori” saja.
    Di sekolah, di salah satu Mata Pelajaran (TIK) ada topik tentang HAKI, tapi sarana yang dipakai semua “bajakan”.
    Bagaimana kalau seperti itu Mas Imam…
    Susah kan…
    Kalau tidak bajakan, mana mampu sekolah beli software legal?.
    Wong komputernya Polsek aja softwarenya tidak yang original je…

  4. Demokrasi harus membawa nilai tertentu. misalnya sekampung setuju bahwa judi dan minum arak tidak melanggar hukum, bukan berarti judi dan minum arak itu baik, walaupun secara demokrasi sudah benar.
    Oh ya, itu para murid jangan diajari ngakali pengadaan kotak suara ya pak! Hehehe

  5. saya termasuk tak pernah melihat gunanya KPU, sebab tidak ada pelanggaran yang menjerakan peserta pemilu. Maka melanggarlah mereka apapun macamnya berapa kalipun dan dimanapun. TOH yang melanggar bisa menang juga.
    Demokrasi di sekolah juga payah… Guru yang perlu dibenahi duluan untuk bisa DEMOKRASI.
    Salam

  6. Sebuah pendidikan yang bagus untuk sebuah demokrasi, dengan pendidikan sejak di sekolah saya yakin siswa nantinya akan lebih matang dalam berdemokrasi kelak, semoga bisa di contoh oleh sekolah-sekolah yang lain di Negeri ini

  7. assalamualaikum…
    syukran ya abahnya Thufail,dah mampir n ngisi koment n shoutboxq…
    kalo liat2 nih blog, kyknya bapak nih pecinta sekolah rakyat yaa…eee sotau aja…hehe kalo gak salah, aku jg aksrang kepengen ngajar di kampung trus suasananya kyk di gmbar yg di postingan bawah itue…jd rindu ama kampung nee..hehe…
    oyah…demokrasi…. kata yg plinplan bg saya…konsepnya lain, aplikasinya lain… jargon gede2nya lain, yg mintanya lain, amerika ktanya jagoannya, surganya, nyatanya dia sendiri ngamuk di kandang orang, hehee… dasar konsep sekuler yah…
    bagusnya elaborasi nilai2 islam aja…ga usah pada latah2 niru mentah2 ke barat…perkuat tradisi, lalu oksidentalisme…

    met berpuasa ya… moga tetap kreatif n semangat ….

  8. intinya, pembelajaran demokrasi perlu ditanamkan sejak dini khan pak Iman? sebagaimana islam perlu dikenalkan kepada anak sejak ia masih kecil.
    semoga generasi penerus nantinya benar-benar paham arti demokrasi dan tidak menyalahgunakan sistem demokrasi yang telah diamanahkan sebagai tameng tuk bertindak yang tidak sesuai dengan nilai moral bangsa dan agama.

  9. Kelihatannya bagus konsepnya…tapi Pakde ane dah 5 kali ikut ceramah romadhon katanya dalam islam tidak dikenal adanya Demokrasi. Dalam islam hanya mengenal Musyawarah…Bagaimana ini???

    Jadi mohon penerangan juga Pakde…

  10. bersama kita majukan pendidikan
    mengajar anak sekoalah memang rada sulit. apalagi jenjang sd-sma. kita juga harus bisa mengerti kepribadian masing masing anak sehingga dapat mengajar dengan tepat dan mengena.
    salam kenal

  11. wah, kayak acara Republik Mimpi ala siswa ya….
    Bagus juga tuh, jadi bukan hanya demokrasi yang diajarkan tapi secara tidak langsung mengajarkan mereka untuk bisa tampil dan berbicara…
    mudah2an yang benar yang ditanamkan sehingga tidak membuat salah pemahaman 🙂

  12. pola pembelajaran yang bagus. hanya saja saya masih merasa ada yang salah dengan pola demokrasi di negeri ini. so, akhirnya saya pesimis, sebenarnya apa yg akan kita ajarkan?
    seandainya model demokraasi di negara ini berupa pemilihan presiden seperti itu, dengan kriteria yg ketat dan adil, baik secara horiontal maupun vertikal, mungkin negeri ini akan sembuh…
    sayang, di negeri ini tak demikian adanya. padahal ada ujar2 yg mengatakan ‘pemimpin mencerminkan rakyatnya’

  13. menarik banget!

    paling enggak generasi berikut mengerti bagaimana seharusnya demokrasi, meski susah menerapkannya…

    makasih sdh mampir blog saya yg kayak laut itu, hehe…saya sendiri hampir tenggelam di dlmnya 🙂

  14. Syarat menjadi Presiden RI:
    1. Muslim
    2. Laki-laki tulen
    3. Sehat jasmani, ruhani dan fikri
    4. Hafal al Qur’an minimal 2 juz
    5. Hafal hadits arbain
    6. Baca al Qur’annya bagus
    7. Tdk pernah mencontek ketika sekolah
    8. Tdk pernah mencuri mangga, kelereng, atau apapun

  15. Ini yang bagus….
    Mengajarkan politik sejak di bangku sekolah…
    Ada jug ayang menganggap salah kalo kita mengajarkan politik pada mereka… makanya sekarang banyak wakil rakyat yang gak paham poltik…..Kacau kan…

  16. Hmmm..
    Kalau di sekolah saya dulu tidak ada yg beginian.
    Ya, cuman pemilihan ketua kelas dan ketua OSIS, pemilihan ketua OSIS pun tidak melibatkan semua siswa namun hanya yg di dalam keanggotan OSIS…

  17. sippp… sekolah kami SMAN 1 KTW LM (di KAL-TENG)juga sudah menerapkan salah satu bentuk pembelajaran demokrasi, yakni pemilihan umum ketua & wakil osis secara jujur, adil, transparan. antusias warga sekolah sangat besar mulai dari kampanye masing” kandidat dari brosur dan orasi langsung berdasarkan waktu yang telah dijadwalkan, pemungutan suara, penghitungan suara sampai kepada pelantikan yang disertai dengan acara adat “tempung tawar” seluruh warga sekolah. trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s