Beranda » Pendidikan » Kekerasan Terhadap Anak

Kekerasan Terhadap Anak

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,020 tapak

780.000 Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Sekolah

Purworejo, CyberNews. Tradisi bullying (gencet-gencetan) merupakan masalah yang telah membudaya dan menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Data yang dimiliki Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tercatat, 780.000 kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah.

Pernyataan tersebut disampaikan Riana Mashar MSi PSi Psikolog UMM pada seminar nasional “Tindak Kekerasan (Bullying) di Sekolah” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Muhammadiyah Purworejo, Rabu (13/8)

“Yang lebih memperihatinkan, bullying nyaris sudah terjadi di banyak sekolah selama bertahun-tahun. Kasus bunuh diri yang dialami beberapa siswa sekolah sebagian diakibatkan adanya bullying yang dialami anak. Fakta ini jelas memperihatinkan. Karena dampaknya sangat luar biasa terutama bagi korban,” ujar Riana.

Menurut Riana, ada dua faktor penyebab bullying, yakni kepribadian dan situasional. Faktor kerpibadian terjadi karena pengaruh dari pola asuh orang tua terhadap anak. Pola asuh yang otoriter terbukti mengakibatkan anak memiliki peluang menjadi pelaku bullying.

“Tayangan sinetron juga membentuk skema kognitif pada anak yang mengakibatkan mereka cenderung menjadi pelaku bullying. Cirinya anak memiliki kecendrungan motif dasar agresivitas, resa rendah diri yang berlebihan, dan kecemasan,” ujarnya.

Sedang faktor situasional, sebagai anak remaja mereka berkecenderungan untuk mengikuti perilaku kelompok di lingkungannya. Apalagi jika di sekolah nyata-nyata memiliki tradisi bullying, maka tradisi tersebut akan menurun terus kepada yuniornya.

Menurut Riana, upaya yang harus dilakukan untuk mengubah si penindas menjadi teman harus dimulai dari sekolah. Sekolah yang ‘mengerikan’ harus bisa menjadi tempat yang menyenangkan. Di sini guru berperan penting untuk menciptakan suasana tersebut.

“Sebaliknya, jika sekolah sudah melakukan upaya menghapus bullying, orang tua juga mesti mengimbangi dengan memberikan pendidikan yang baik di rumah. Jangan sampai di sekolah sudah dididik dengan benar, di rumah mendapat perlakukan keras dari orang tua,” imbuhnya.

(Nur Kholiq /CN05)

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/beta1/index.php?fuseaction=news.detailNews&id_news=11616


7 Komentar

  1. trendy mengatakan:

    saya juga sering menjadi korban kekerasan di sekolah!
    waktu itu ketauan minggat.langsung dah kena gampar!
    wkekekekekeke!

  2. Ivana mengatakan:

    saya ngga pernah jadi korban kekerasan ni,hehehe.soalnya saya kebetulan bergaul sama teman-teman yang muka dan badannya nyeremin (padahal baik hati,hehehe..) jadi aman.
    Tapi, saya setuju kok soal peran orang tua untuk mendidik anaknya agar ngga terjadi lagi kekerasan…

  3. doni mengatakan:

    afwan, baru sempet ol…
    iya bro… gpp…
    mereka dah pulang, kok…
    ^_^

  4. Aryo Sanjaya mengatakan:

    Wah, blog khusus pemerhati dunia anak ya, great!

    Tadi pagi di tvOne dibahas pengaruh game pada kepribadian anak, serem juga sih.

    O iya pak, untuk ayatnya, variabel C dapat diubah-ubah untuk menyesuaikan lebarnya. Juga parameter lain untuk menyamakan dengan tampilan🙂

    Salam kenal.

  5. kucingkeren mengatakan:

    anak-anak padahal tak sadar dikerasi.. org macam apa yg punya hati semena2 pada anak2 itu..

  6. sekolahalamarridho mengatakan:

    pagi juga pak imam.

    iya pak…bulliying psikis , alias secara emosional juga memprihatinkan pak..seperti : mengisolasi, memusuhi, mengejek…dsb… yang ini banyak, tapi tak tersentuh ‘hukum’ pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: