Beranda » Ungkapan » Kemana Saja Kau “BUNDA”

Kemana Saja Kau “BUNDA”

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,948 tapak

Saya begitu “miris” membaca postingan dari sebuah blog yang berjudul “Kasih Sayang (Pembantu)” . Ya… tidak salah bila seorang pembantu menyayangi anak yang di asuhnya. Harus !!!. yang menjadi masalah adalah ketika anak sudah merasa kasih sayang dikeluarga “hanya” di dapat dari pembantunya. Hal itu terbaca ketika ada pertanyaan dan yang langsung harus di jawabnya.

Ketika ada pertanyaan atau harus menjelaskan gambar ada seorang anak yang di pangku seorang ibunya…. Dan pertanyaannya : Gambar di samping mewujudkan kasih sayang seorang… a). pembantu b). Ibu c). Ayah. Dan secara jujur si anak menjawab a). Pembantu

Ini yang harus kita renungkan:

Saya katakana jujur karena pasti yang muncul sebagai jawaban adalah seorang wanita. (c. Ayah pasti bukan) dan yang terekam dalam otak kecil berdasarkan pengalaman hidup kesehariannya adalah “dalam keseharian ,dia mendapat kasih sayang dari pembantu atau dia terkesan kasihsayang pembantu di banding ibunya” sehingga sadar atau tidak sadar dari kejujuran pengalaman hidupnya….. maka di jawablah pembantu.

Sepakat dengan pernyataan pada postingan tersebut Orang tua mana yang hatinya gak sakit dan kecewa, setelah melihat gambar diatas? Marilah hal ini menjadi bahan evaluasi dan instropeksi bagi kita.” Dan saya akan menambahkan satu pertanyaan “ Kemana Saja Kau “BUNDA” ?

: maaf tulisan ini tidak menyudutkan siapa saja, dan hanya di maksudkan untuk bahan renungan dan pelajaran kita semua. Tulisan aslinya ada di http://yodama.wordpress.com/2008/07/26/kasih-sayang-pembantu/


14 Komentar

  1. hakim mengatakan:

    Jangan ‘miris’ terlebih dahulu. Yang mengerjakan soal tersebut (kalo memang benar) adalah anak kelas 1. Anak di usia tersebut, hanya melihat apa yang tertampilkan di depan mata. Kalo kita cermati gambar yang ada di soal, bisa jadi jawaban ‘pembantu’ adalah benar. Melihat penampilan dari gambar perempuan tersebut. Coba kalo gambarnya diganti yang lebih trendi, bawa hp atau laptop misalnya, maka akan dijawab b (ibu).
    Tapi kita tetap harus ‘miris’ dengan kondisi masyarakat saat ini. Waktu dan tenaga orang tua telah dihabiskan di tempat kerja. Praktis, ketika pulang hanya sisa waktu dan tenaga yang diberikan kepada anggota keluarga yang lain.
    Maka jangan heran, kalo banyak terjadi tindakan kriminalitas di kalangan anak2. Karena tiada sentuhan kasih sayang orang tua, kurangnya belaian lembut ibu dan ayah yang juga akan melembutkan hati dan fikirnya. Semua itu tergantikan oleh tangan-tangan kasar (meskipun juga ada kasih sayang disana) dari pembantu.
    Pembantu adalah ORANG KETIGA yang paling berperan dalam pendidikan anak, setelah ayah-ibu. Tapi ayah-ibu adalah ORANG PERTAMA yang akan ditanya tentang anaknya, bukan pembantu.

  2. doniriadi mengatakan:

    tulisan yang pendek tapi menggugah.
    thx bro udah memuatnya ulang.
    ini hal penting buat ayah dan bunda…

  3. trendy mengatakan:

    beruntung dirumah saya nggak ada pembantu!
    saya miris dan mau ketawa juga!

  4. marsudiyanto mengatakan:

    Untung…. Untung…..
    Beruntung saya tak punya “pembantu”, sehingga di otak kecil anak saya hanya bapak & ibu…

  5. marsudiyanto mengatakan:

    Gak kuat mbayarnya Pak…

  6. Rita mengatakan:

    Kuarang lebih saya mengalaminya mas. Sejak kecil anak saya sering saya tinggal karena sibuk mengurus organisasi. Yg ada sekarang anak bungsu saya lebih dekat sma pramuwisma (saya tidakterbiasa menyebutnya seperti umumnya)dirumah kami.
    Sekarang saya menyadarinya dan berusaha meraih kembali perhatian dan berusaha memberinya perhatian melebihi si bibi.

  7. fanani mengatakan:

    jadi….
    sebenarnya anak siapakah dia sebenarnya???!!!hehe….

  8. kanghasan mengatakan:

    o…ternyata ibuku bukan ibuku…he..he..he..

  9. Dessy mengatakan:

    Sebelum menikah saya adalah wanita karir sejati, tak pernah terlintas akan tinggal di rumah merawat anak. Alhamdulillah Allah memberi skenario lain sehingga saya bisa full time menjadi Ibu. Ternyata jauh lebih susah mengurus keluarga ketimbang menghadapi tugas2 kantor ataupun kampus, karena anak bukan robot ataupun rutinitas, karena setiap detik tumbuh kembang mereka adalah suatu pengalaman yang amazing…

  10. fahrizalmochrin mengatakan:

    Pembantu..oh.. pembantu nasibmu masih termarginalkan…Begitu besar jasanya tapi masih tetap di sejajarkan seperti babu..( buat wanita karier yang super sibuk hati2 ntar kalah saing loh…).

  11. maggie mengatakan:

    persis seperti ketakutan saya pas pertama kali punya bayi, jangan2 anaku akan lebih dekat sama bibinya dari pada sama ibunya….

  12. ariefdj mengatakan:

    ..emangnya kenapa ya kalo emang pembantu ? kan gak salah .. lagipula, kalo si anak di-salahkan, malah akan tertanam dalam otak bawah sadarnya tentang ‘perbedaan kelas’.
    Atau, mungkin juga se-usianya, dia merespon soal berdasarkan persepsi : gambar pria – wanita.. kemudian, berdasarkan ‘analisis’ gbr wanita itu, ibu apa pembantu..
    ..yang salah, ya yang buat soal ajah.. 😀 .

  13. Ratna mengatakan:

    Mungkin anaknya polos aja kali…liat gambarnya yang emang ngga seperti ibunya. Bajunya pake kebaya gitu… Wajar disangka sebagai pembantu🙂

  14. Adiputra mengatakan:

    salam..

    mmm,,,jadi ngerasa kena nich..dulu waktu saya kecil, orang tua saya sibuk untuk kerja mencari uang dan saya di urus dengan pembantu..tapi alhamdulillah Ibu tetap jadi no 1 dalam hidup saya..kita pasti gak akan lupa dengan jasa2 orang tua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: