Beranda » Pendidikan » Matikan Televisi Sehari Saja

Matikan Televisi Sehari Saja

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,949 tapak

Judul besar di Koran Republika Edisi Ahad 20 Juli 2008 yang berisi ajakan Matikan Televisi Sehari Saja dan kalimat yang di tulis lebih besar dan tebal “Kekerasan psikologis dalam tayangan sinetron mencapai 40 persen”. Sebuah judul dan kalimat yang sedikit menyentak dan menyadarkan kita (orang tua) akan “daya magis” dari sebuah barang yang bernama Televisi.

Saya coba paparkan dan kutip dari beberapa yang menjadi catatan dari tulisan tersebut :

Dari data Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) pada 2006 terungkap bahwa anak usia sekolah dasar punya kebiasaan menonton televise 30-35 jam per minggu plus 10 jam lagi untuk bermain video game. Setahun kemudian, YPMA kembali mencatat bahwa anak-anak negeri ini punya kebiasaan asyik menatap layar kaca hingga 1.600 jam per tahun. Padahal, waktu belajar di sekolah “hanya” 740 jam per tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan 18 perguruan tinggi di Indonesia bersama YPMA sepanjang 2006-2007, dari 400 judul sinetron yang di teliti ternyata tayangan kekerasan mendominasi. Kekerasan psikologis berupa aksi mengancam, memaki, melecehkan, memarahi, membentak, dan melotot paling dominan hingga 41,05 persen. Ini berlanjut dengan kekerasan fisik seperti mencubit, memukul, mengeroyok, meninju atau menikam sekitar 25,14 persen. Belum lagi kekerasan rasional fungsional, hingga kekerasan relasional yang mengakibatkan rusaknya hubungan atau relasi.

Rincian siaran yang ada terdiri atas iklan yang memiliki porsi sebanyak 30 persen, sinetron 30 persen, dan sajian lain yang kurang bermutu. Sedangkan siaran pendidikan hanya satu persen.

Bagaimana sikap kita selanjutnya, sementara di belakang kita adalah generasi bagi negeri ini…???

Rasanya kita harus sepakat dengan ajakan Matikan Televisi Sehari Saja, meskipun sedikit terlambat.


26 Komentar

  1. hakim mengatakan:

    Matikan teve sehari saja? Bagaimana dengan hari selanjutnya?
    Atau matikan selamanya alias tevenya dijual? He..he..
    Teve adalah buah simalakama di rumah kita. Mau nonton, banyak yang tidak sesuai dengan visi misi kita. Tidak menonton, banyak hal yang bisa kita ambil dari teve.
    Yang penting adalah, adanya pembatasan menonton teve untuk anak. Dan yang terpenting. JANGAN BIARKAN MEREKA MENONTON TANPA PENDAMPINGAN DARI ORANG TUA.
    Karena, bila kita jeli. Byk sekali tanyangan teve yang dikhususkan untuk anak (kategori segala usia), berisi adegan yang tidak pantas untuk mereka. Bahkan, film kartun sekalipun.
    So, teve ibarat pedang. Ia akan membunuh orang yang tidak piawai memainkannya.

  2. Singal mengatakan:

    Pemilik siaran TV hanya memikirkan duit saja…

  3. ahmad mengatakan:

    walau terlmbat?

    belum terlambat…
    coba deh kita tengok di kampung kita.
    kadang ada aturan jam belajar. tpi belm dipahami dg pas.
    anak belajar tapi orang tuanya nonton tv…??
    maksudnya apa ya?
    kita, orang tua yang bisa men seleksi acara tivi… untuk anak kita.
    tapi anak sekarang tidak bisa “disuapi” acara tv pilihan kita. harus dengan pemahaman mungkin…
    begitulah… semoga kita tidak terlambat dan tidka membiarkan hal ini tanpa aksi dari kita…. hee…

  4. aziz mengatakan:

    hmmm…. kalo masalahtipi emang sekarang tayangannya udah gak bagus sih…. pengurusnya emang cuma ngurusin dui aja….

  5. ksemar mengatakan:

    Tv saat ini juga bukan hanya menyajikan berita dan fakta, tapi juga segala bentuk kebohongan. Menurut Pak Singal, di TV saat ini hanya berita olah raga yang tidak bohong

  6. Rafki RS mengatakan:

    Saya setuju kita harus lebih sering mematikan televisi dan menghidupkannya ketika dibutuhkan saja. Kecanduan televisi dikalangan anak-anak sepertinya sudah seperti kecanduan narkoba. Semakin berbahaya ketika tayanang televisi itu tidak memiliki alat saringan yang kuat.

  7. afraafifah mengatakan:

    Hari Tanpa TV itu kerjaannya dosen-dosen dan teman-teman saya di komunikasi UI tuh pak ^_^

    (saya mendukung aja deh..gk ikutan ngumpul di bunderan HI) hehe…

  8. hakim mengatakan:

    Anak adalah representasi dari kedua orang tuanya.
    Jika ingin anak kita baik, beri mereka contoh yang baik.
    Bapakethufail, bagaimana kabar syasa? Sekarang sekolah dimana? Salam untuk syasa ya.
    Saya udah ngelink blog bapak. Matur nuwun pisan kalau di link balik.

  9. rieaction mengatakan:

    Adakah TV yang bisa diprogram seperti komputer? Maksudnya orang tua sebagai programmer memilih siaran-siaran yang bagus dan diluar itu program TV dikunci artinya tidak dapat ditayangkan. Mungkinkah ? Mungkin ada yang ahli elektronik yang bisa menjawab masalah ini.

  10. achoey sang khilaf mengatakan:

    dah pada dimatikan tuh TV nya kemaren2

    sekarang posting lg donk😀

  11. ven mengatakan:

    Ah TV…barang kecil yg menyita banyak mata untuk terbius berjam-jam …

  12. mutiatun mengatakan:

    Hm… ane dah matikan tuh TV semenjak ane SMP. dan kukasihkan di gudang….

  13. Rizky mengatakan:

    Halo salam kenal pak…

  14. Affan mengatakan:

    awalnya kesasar, lama kelamaan betah deh🙂

  15. yodama mengatakan:

    moga para produser acara2 TV, tidak tutup kuping. Mereka seharusnya jangan sekedar membuat acara yang menganut paham “profit-isme”. Paling gak berpikir, adakah acara yang mereka buat benar-benar bermanfaat nantinya.

    jadi sedih, setelah membaca prosentase pendidikan hanya satu persen😦 faktanya, emang jarang saya melihat berita, bila ada salah seorang pelajar kita yang berprestasi secara akademik (olimpiade fisika, komputer, dll). malah yang banyak acara semacam tuk membentuk generasi instan, yang sekedar ingin terkenal. aduh.

  16. trendy mengatakan:

    saya jarang nonton tv, tapi internetan setiap hari!
    wekekekeek!
    gimana tuh!

  17. semangatpersaudaraan mengatakan:

    matikan televisi saat jam 17.00-22.00 gimana pak?
    kan di jam2 itu lagi banyak-banyaknya iklan dan sinetron kejar tayang. Nyalakan saat ada kuis ilmu pengetahuan dan sejenisnya, kartun tetap diijinkan hanya hari minggu saja,,bagaimana ide saya?🙂

  18. yellashakti mengatakan:

    hati-hati dengan televisi,,:(

  19. kucingkeren mengatakan:

    saya kira ajakan matikan tv sehari ini percuma saja, jika kita semua tetap tak peduli dengan tontonan yang ada. Terpenting kita harus alert dg apa yg ditonton anak-anak, begitu juga para produser yang punya banyak uang itu. Keuntungan finansial sifatnya hanya sementara, tapi pendidik moral yang baik untuk anak-anak akan abadi sepanjang hayat.. Salam kenal..

  20. lyla mengatakan:

    maaf baru berkunjung, saya sempatkan ke warnet sementara wkt ini…:(

  21. theloebizz mengatakan:

    sinetron nya ajah yg dihapuskan!!

  22. Rizky mengatakan:

    Pak? Kalo TV nggak ada lagi di muka bumi ini, lantas apa penggantinya yang paling tepat…???

  23. yodama mengatakan:

    OOT.
    silakan pak kalo mo mbahas ttg ini di blognya.

  24. mariarina mengatakan:

    jangan ada televisi di dalam kamar tidur anak dan batasi jumlah televisi hanya 1 unit saja di setiap rumah tangga.
    berikan anak “jadwal” menonton tv [ini berlaku juga untuk orang tuanya}.
    btw: dunia pertelevisian indonesia sedang dikuasai rezim banci (maaf…).

  25. siti mengatakan:

    Setuju….Setuju!!! di rumahku sampai saat ini TV gak pernah lagi hidup.

  26. mochamad usuf mengatakan:

    betul sekali pak saya sangat setuju sekali itu, karena disadari atau tidak, televisi ,seringkali dan kebanyakan membawa budaya yang tidak sesuai dengan budaya indonesia dengan adat ketimuran yang sekarang telah mulai luntur. Televisi sekarang lebih banyak membawa mudharat pak, atas nama kebebasan press, insan pertelevisian telah mengexplorasi media televisi dengan segala hal, gak perduli yang bertentangan dengan moral atau agama, atau budaya kita, Televisi juga berperan dalam penghancuran moral bangsa, kita lihat tayangan sinetron, terus gaya hidup para artis yang glamorm dan lebih parah lagi gaya berdandan mereka yang diluar batas, kalo mereka dilarang alasannya HAM, sungguh menyedihkan, belom lagi kalo ditanya lulusan apa mereka ? so pasti kebanyakan SMU langsung cabut, jadi mereka rata – rata sekarang hanya berkiblat pada pemikiran luar yang bebas, dan tanpa batas, hal ini diikuti generasi kita yang mengidolakan mereka, kalo hal ini dibiarkan generasi kita akan kehilangan identitasnya, agamanya, dan budayanya sebagai orang indonesia…Naudzubillah//

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: