Beranda » Pendidikan » Hidup Bahagia Tanpa TV (# 1)

Hidup Bahagia Tanpa TV (# 1)

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,949 tapak

: Muhammad Fauzil Adhim

 

Setiap anak harus mengembangkan perasaan bahwa mereka dapat ”mengubah dunia” dan memiliki kekuatan dari dalam (innerstrength) dan percaya bahwa mereka adalah orang yang memiliki kompetensi dan kemampuan. Secara alamiah, dorongan ini muncul pada diri anak semenjak bayi. Mereka belajar menggunakan tangis, senyum, gerakan dan suara-suara untuk memanggil orangtuanya, meminta perhatian dan “memaksa” orang tua memenuhi keinginannya.

Usia dua tahun, dorongan untuk mengembangkan kemampuan “mengubah dunia” itu semakin menguat. Para ahli menyebut rentang usia dua hingga empat tahun sebagai the terrible twos atau masa-masa dua tahun yang “mengerikan”. Ungkapan ini mungkin terasa berlebihan. Tetapi pada prinsipnya para ahli menyampaikan pesan dengan ungkapan ini bahwa anak-anak usia dua tahun hingga empat tahun sedang mengembangkan kemampuan mengatur, memaksa, menolak perintah dan melakukan tawar menawar terhadap aturan orang dewasa. Lebih-lebih jika diperintah secara tiba-tiba, mereka cenderung menunjukkan perlawanannya. Mereka ingin menyampaikan pesan kepada dunia bahwa mereka tidak bisa dipaksa.

Kecenderungan ini sangat alamiah. Setiap anak harus memiliki dorongan ini sebagai bekal untuk mengembangkan apa yang disebut sebagai Sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Orang tua maupun guru di sekolah berkewajiban menumbuhkan sense of competence ini pada diri anak, terutama usia 4-8 tahun. Jika anak memiliki perasaan ini secara memadahi pada rentang usia 4-6 tahun, mereka akan lebih siap untuk memasuki fase pendisiplinan diri pada usia 7 tahun. Pada saat yang sama orangtua maupun guru di sekolah tetap berkewajiban membangun sense of competence hingga usia 8 tahun sehingga mereka memiliki citra diri, harga diri serta percaya diri yang baik.

Mengapa fase pendisiplinan dimulai paa usia 7 tahun ? Ini terkait dengan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW). Belia bersabda, “Apabila anak telah mencapai usia tujuh tahun, perintahkanlah dia untuk melaksanakan shalat. Dan pada saat usianya mencapai sepuluh tahun, pukulah dia apabila meninggalkannya.” (Riwayat Abu Dawud)

Dalam Hadits ang diriwayatkan oleh Imam Al Tirmidzi, Rasulullah bersabda, “Ajarkanlah anakmu tatacara shalat ketika telah berusia tujuh tahun. Dan pukulah dia pada saat berusia sepuluh tahun (apabila meninggalkannya).” (Riwayat Tirmidzi). Hadits ini menunjukkan dengan sangat jelas kepada kita bahwa mendisiplinkan anak shalat dimulai pada usia tujuh tahun. Bukan usia sebelumnya. Kita perlu memberi pendidikan iman, akhlak dan ibadah sedini mungkin. Tetapi ada prinsip lain yang harus kita perhatikan: berikanlah pendidikan tepat pada waktunya. Sesungguhnya sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah SAW dan sebaik-baik perkataan adalah firman Allah ‘Azza wa jalla, yakni kitabullah Al-Qur’anul Kariim.

Jadi, kalau anak yang belum berusia tujuh tahun tidak mengerjakan shalat, kita harus memaklumi dan melapangkan hati. Tugas kita adalah menumbuhkan perasaan positip terhadap kebiasaan yang ingin kita tumbuhkan, membangkitkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi) serta menjamin bahwa mereka memiliki harga diri yang tinggi. Kita memperlakukan mereka secara terhormat, tetapi bukan memanjakan.

Allah Subhanahu wa ta’ala (SWT) berfirman, “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang member rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi yangbertakwa.” (Thaahaa <20> : 132).

Sabar

Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakannya, kita haruskan mereka melakukan shalat bahwkan ketika usianya belum genap empat tahun. Arena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau.., kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah beusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit. Lantas, apa hubungan denga televise? Mohon sabar menunggu pembahasan berikutnya. Wallahu ‘alam bishawab.

Sumber : Suara Hidayatullah/Juni 2008/Parenting


10 Komentar

  1. fanani mengatakan:

    hups… komentar pertama ya? celingak celinguk…
    memang mas, mendidik anak dan belajar sejak kecil bagai mengukir di atas batu…mantep dan membekas sapai tua nantinya.
    tapi kalo mulai belajarnya udah terlanjur tua bagai mengukir di atas air…wer ewer ewer cuwer mudah lupa…hehehe..

  2. bapakethufail mengatakan:

    : fanani
    makasih komentarnya…
    lebih susah lagi kalau mengukirnya itu di langit …. langsung nggak ada bekasnya mas….

  3. ibnusy mengatakan:

    apa jadinya jika pada saat usia emas, anak-anak kita menjadikan tv adalah gurunya? saat ini tk sudah diajarin pacaran, anak smp di tv sudah ciuman, sma sudah begituan. terus mau jadi apa bangsa ini?
    kebetulan di batam tv negara tetangga itu bisa di akses secara gratis, kalo diperhatikan acaranya tidak separah di negara kita yang katanya mayoritas muslim lho kang. memang bener indonesia itu lebih liberal dari negara liberal aslinya.

    biar gak penasaran dengan postingan selanjutnya, mending nebak aja sendiri (sapa tahu betul) kalo salah, ibarat ijtihad dapat satu pahala. lho?

  4. nenyok mengatakan:

    Salam
    Hmm I see, so the key is kita mesti sabar ya memperlakukan anak plus kasih teladan kali ya🙂

  5. nengthree mengatakan:

    saya ada tv di rumah..
    tapi jaraaaaaaaaaaaaaaaang banget nonton
    apalagi tayangannya sekatang aneh aneh, ga logic..
    (ga nyambung ya?)

  6. bapakethufail mengatakan:

    :ibnusy
    saya sepakat banget…. postingan berikut segera hadir…

    :nenyok
    salam balik…. pasti aku langsung adakan kunjungan balasan

    :nengthree
    sama dengan keluarga ku…. ada tv, tapi jarang banget nonton… soalnya udah ada kesepakatan dengan anak. setelah adzan maghrib gak ada suara tv lagi….. (cuma kadang2 bapaknya nyolong kalau malem…!!!)

    terima kasih semua atas kunjungan dan komentarnnya

  7. Silly mengatakan:

    TV itu merusak kepribadian anak kita emang…

    Terutama televisi indonesia yg isinya hanya kekerasan,pronografi, iklan2 yg tidak mendidik, haduh pokoknya sangat tidak layak untuk ditonton anak2 kita

    Pendidikan yg paling baik itu adalah keluarga.
    So, mulai dari lingkungan terkecil, keluarga, akan tumbuh generasi yg luar biasa bagi bangsa ini

    salam,
    Silly

  8. arief_dj mengatakan:

    ..sepakat.. paling tidak, acara2 tipi kudu sangat di-sensor.. acara2 gak berguna kudu di-minimalisir..

  9. Artikel menarik dan blog yang luar biasa…
    Salam kenal sebelumnya. Saya Kak Zepe. Saya penulis lagu anak…
    Saya punya artikel parenting tips dan kumpulan lagu anak…
    Blog saya adalah http://LAGU2ANAK.BLOGSPOT.COM
    Berminat tuker link??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: