Beranda » Pendidikan » MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN PADA ANAK SEJAK USIA DINI (#3-selesai-)

MENGOPTIMALKAN PERKEMBANGAN KECERDASAN PADA ANAK SEJAK USIA DINI (#3-selesai-)

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,949 tapak

Oleh : Kak Seto

Disampaikan dalam Talk Show : Ngobrol Bareng Kak Seto dengan tema “Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak (Cara Bijak Mendidik Anak)” yang diselenggarakan oleh Sekolah Alam Ar-Ridho, pada tanggal 4 Juni 2006 di Semarang.

.

 

Selanjutnya oleh tokoh-tokoh seperti: Sternberg dan Salovey, sebagaimana diungkapkan oleh Goleman, disebutkan adanya lima wilayah kecerdasan pribadi dalam bentuk kecerdasan emosional.

Lima wilayah tersebut adalah:

Kemampuan mengenali emosi diri

Kemampuan mengelola emosi

Kemampuan memotivasi diri

Kemampuan mengenali emosi orang lain

Kemampuan membina hubungan

 

Berikut ini adalah uraian dari ke lima wilayah di atas.

Kemampuan Mengenali Emosi Diri adalah kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul. Ini sering dikatakan sebagai dasar dari kecerdasan emosional. Seseorang yang mampu mengenali emosinya sendiri adalah bila ia memiliki kepekaan yang tajam atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. Dalam hal ini misalnya sikap yang diambil dalam menentukan berbagai pilihan, seperti memilih: sekolah, sahabat, pekerjaan, sampai kepada pemilihan pasangan hidup.

Kemampuan Mengelola Emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara salah. Mungkin dapat diibaratkan sebagai seorang pilot pesawat yang dapat membawa pesawatnya ke suatu kota tujuan dan kemudian mendaratkannya secara mulus. Misalnya seseorang yang sedang marah, maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesalinya di kemudian hari.

Kemampuan Memotivasi Diri adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga seseorang memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Misalnya dalam hal belajar, bekerja, menolong orang lain, dan sebagainya.

Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain adalah kemampuan untuk mengerti perasaan dan kebutuhan orang lain, sehingga orang lain akan merasa senang dan dimengerti perasaannya. Anak-anak yang memiliki kemampuan ini, yaitu sering pula disebut sebagai kemampuan berempati, mampu menangkap pesan non-verbal dari orang lain tersebut. Dengan demikian anak-anak ini akan cenderung disukai orang.

Kemampuan Membina Hubungan adalah kemampuan untuk mengelola emosi orang lain, sehingga tercipta keterampilan sosial yang tinggi dan membuat pergaulan seseorang menjadi lebih luas. Anak-anak dengan kemampuan ini cenderung mempunyai banyak teman, pandai bergaul dan menjadi lebih populer.

Di sini dapat kita simpulkan betapa pentingnya kecerdasan emosional dikembangkan pada diri anak. Karena betapa banyak kita jumpai anak-anak, dimana mereka begitu cerdas di sekolah, begitu cemerlang prestasi akademiknya, namun bila tidak dapat mengelola emosinya, seperti mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong, maka prestasi tersebut tidak akan banyak bermanfaat untuk dirinya. Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada anak sejak usia dini. Karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang secara lebih optimal.

Hal yang hampir senada juga dikemukakan oleh Robert Coles dalam bukunya yang berjudul “The Moral Intelligence of Children”, bahwa di samping IQ, ada suatu jenis kecerdasan yang juga memegang peranan amat penting bagi kesuksesan seseorang dalam hidupnya.

Hal ini ditandai dengan kemampuan seorang anak untuk bisa menghargai dirinya sendiri maupun diri orang lain, memahami perasaan terdalam orang-orang di sekelilingnya, mengikuti aturan-aturan yang berlaku. Semua ini termasuk merupakan kunci keberhasilan bagi seorang anak di masa depan.

 

Kecerdasan Spiritual

Danah Zohar dan Ian Marshal dalam bukunya yang berjudul “Connecting with Our Spiritual Intelligence” (2000), menyatakan bahwa dalam otak manusia ditemukan adanya eksistensi God-Spot sebagai pusat spiritual yang terletak antara jaringan syaraf dan otak. Adanya God-Spot dalam otak menunjukkan bahwa manusia memiliki kepekaan terhadap makna hidup dan nilai-nilai kehidupan.

Kecerdasan spiritual dapat menumbuhkan fungsi manusiawi seseorang sehingga membuat mereka menjadi kreatif, luwes, berwawasan luas, spontan, dapat menghadapi perjuangan hidup, menghadapi kecemasan dan kekhawatiran, dapat menjembatani antara diri sendiri dan orang lain serta menjadi lebih cerdas secara spiritual dalam beragama.

Peran orangtua dalam upaya menumbuhkembangkan kecerdasan spiritual pada anak sangat penting. Sama pentingnya dalam upaya orangtua dalam menumbuhkembangkan potensi kecerdasan anak pada bidang yang lainnya. Dalam hal ini, yang sebaiknya dilakukan oleh orangtua adalah :

Usahakan untuk tidak mematikan spontanitas anak

Usahakan untuk selalu tidak berprasangka buruk pada anak maupun orang lain.

Upayakan agar dapat mendidik dan membesarkan anak dengan kasih sayang serta keakraban dalam lingkungan keluarga

Tumbuhkanlah rasa percaya diri anak dengan tidak menekan anak sehingga anak jadi takut mencoba sesuatu hal yang baru serta dapat mengambil kesimpulan yang salah terhadap suatu peristiwa.

Upayakan agar anak dapat membuat dan memiliki prioritas hidup

 

Selanjutnya, bagaimana caranya agar hal ini dapat diwujudkan pada anak-anak kita sejak usia dini sebagai persiapan menyambut era globalisasi ?

Suasana damai dan penuh kasih sayang di sekolah, di samping keluarga, contoh-contoh nyata berupa sikap saling menghargai satu sama lain, ketekunan dan keuletan menghadapi kesulitan, sikap disiplin dan penuh semangat, tidak mudah putus asa, lebih banyak tersenyum daripada cemberut, semua ini memungkinkan anak mengembangkan kemampuan yang berhubungan dengan kecerdasan kognitif, kecerdasan emosional maupun kecerdasan moral dan spiritualnya

.

Penutup

Anak-anak unggul pada dasarnya tidak akan tumbuh dengan sendirinya. Mereka sungguh memerlukan lingkungan subur yang diciptakan untuk itu, yang memungkinkan potensi mereka dapat tumbuh secara optimal. Dalam hal ini orangtua, di samping guru, memegang peranan yang amat penting

Oleh karena itu tentunya dibutuhkan suatu kesungguhan dari para orangtua untuk secara tekun dan rendah hati melakukan hal yang terbaik bagi putra-putrinya.

Kiranya uraian di atas dapat memberikan sedikit wawasan bagi para orangtua untuk usaha-usaha tersebut.

Semoga.

 

 

Daftar Kepustakaan

Coles, Robert (1997). The Moral Intelligence of Children. New York. Random Haouse, Inc.

Gardner, Howard (1993). Multiple Intelligences. New York. Basic Books Harper Collins Publ., Inc.

Goleman, Daniel (1995). Emotional Intelligence. New York. Bantam Books.

Stoltz, Paul G (1997). Adversity Quotient, Turning Obstacles into Opportunities. New York. John Wiley & Sons, Inc.

Zohar, Danah & Marshal, Ian. (2000). Connecting with Our Spiritual Intelligence. New York : Bloomsbury Publishing.


1 Komentar

  1. Syarifah Nurhaida mengatakan:

    Saya ingin konsultasi dengan kak Seto, bagaimana mendidik anak yg di bawah pengaruh kakak2nya, anak saya berumur 3 tahun 5 bulan, secara emosional dia amat terpengaruh kakaknya. Dimana dan kapan waktu konsultasinya, juga berapa biayanya per pertemuan. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: