Beranda » Pendidikan » MAMBACA KEHENDAK-NYA

MAMBACA KEHENDAK-NYA

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,948 tapak

Ini kisah sepasang suami istri yang harmonis, masing-masing memiliki karier yang bagus. Perjalanan hidupnya mulus hingga memiliki level dan status sosial yang cukup terhormat di masyarakat. Anak pertama dan keduanya sehat dan selalu mendapat nilai dan ranking tinggi di sekolahnya. Bahkan sering menjadi juara dalam berbagai perlombaan.

Ketika anak ketiganya lahir dan tumbuh, lalu menyandang predikat berkebutuhan khusus atau autis, pada awalnya mereka kaget dan merasa tidak siap. Namun lewat perenungan yang panjang, mereka kemudian sangat mensyukurinya. ”Kami bersyukur, anak ini menyelamatkan kami dari api neraka, karena keadaan yang sukses selama ini membuat kami bangga akan prestasi duniawi. Kelahiran anak ini, telah mengingatkan kami, untuk apa kami diberi umur oleh Tuhan.”

Bila meyakini bahwa jodoh sudah ditentukan, maka gen antara suami-istri yang bertemu tentu juga karena Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Karena itu, kita diuji dengan kehadiran anak yang kita miliki sekarang. Itulah pekerjaan rumah, ujian, dan proyek yang Allah SWT berikan. Jika anak kita cerdas, bukan berarti boleh bertepuk dada, tapi ketika sedang diuji dengan anak kita yang memiliki kekurangan, bukan berarti harus malu, justru itu pekerjaan kita untuk merawat dan membesarkan anak yang memiliki keterbatasan.

Kita harus mengurus anak-anak sebaik yang kita mampu. Adapun hasil akhirnya, kita serahkan kepada Sang Pemiliknya. Yang Allah nilai hanya upaya kita apakah sudah maksimal atau tidak. Tidak ada kriteria untuk memasuki surga-NYA harus memiliki anak yang cerdas dan selalu juara.

Satu diantara tiga amal yang akan menolong orang tua salah satunya adalah doa anak yang shalih, bukan doa anak yang pintar. Dan bukan pula doa anak yang selalu juara satu. Berusaha untuk punya anak tercanggih dan selalu juara bukan kehendak Allah. Ambisi orang tua untuk menjadikan anak juara justru sering menjadi beban bagi si anak.

Ibu tadi lalu berkata, “Selama ini kami selalu menjadikan anak-anak kami hebat dengan berbagai predikat juaranya. Namun kami tidak pernah mencari tahu apa maksud Tuhan memberikan anak, dan kami tidak tahu Tuhan ingin anak dididik seperti apa.”

Setan memang kerap menghasut pikiran kita untuk menjadikan anak sebagai sarana memperoleh rasa bangga. Padahal hanya satu kesalahan setan yang membuatnya dilaknat, yaitu ia merasa “paling” sehingga ia tidak mau tunduk. Manusia pun sering terjebak dalam keinginan seperti itu, termasuk menginginkan anaknya menjadi “paling”.

Pasangan suami istri di atas akhirnya menyadari bahwa siapapun anak yang diberikan, itulah yang opas untuk mereka, untuk menyelesaikan tugas kehidupan dan untuk mengantar mereka “pulang”. Mereka merasa tidak perlu membandingkan dengan anak tetangga, saudara sepupu, ataupun anak teman-temannya. Siapa yang lahir itulah yang mere abaca (iqra’). Ia membawa pesan dari Allah SWT. IQRA’ adalah perintah pertama yang turun ke muka bumi. IQRA’ adalah juga membaca anak-anak yang dititipkan melalui rahim sang ibu.

Setiap orang mempunyai pikiran tentang anaknya, tapi manusia harus mencari tahu apa maksud Allah menghadirkan anak-anak yang mereka miliki saat ini. Dan kita harus memperlakukan mereka seperti yang pikiran kita mau. *Ida S. Widayanti/Suara Hidayatullah

Sumber :

Suara Hidayatullah/Jendela Keluarga/Celah/Juni 2008


1 Komentar

  1. nina mengatakan:

    Subhanallah, memang benar, dizaman sekarang banyak sekali kita temukan orangtua yang memaksakan anak2nya untuk menjadi juara kelas, menjadi yang terbaik dari anak2 lainnya, dengan demikian mereka dianggap sebagai orangtua yang sukses. Anak-anak dipaksa untuk belajar dengan keras, diikuti berbagai macam kursus ( padahal belum tentu si anak berminat ya ? atau orang tuanya kali yang perlu dikursusin ? ) sehingga masa bermain anak sangat2 minim, padahal inilah yg perlu bagi perkembangan si anak…. Intinya kita harus memperlakukan anak sebagaimana yang diinginkan oleh anak sesuai dengan kemampuannya, bukan memperlakukan anak seperti yang diinginkan orangtua dengan memaksakan segala sesuatu diluar kemampuan si anak. Yang terpenting adalah, bagaimana kita menjadikan anak2 kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah, cerdas emosi dan spiritualnya. Bukan hanya cerdas secara intelektual.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: