Beranda » Ungkapan » DUSTAMU BUNDA

DUSTAMU BUNDA

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,948 tapak

Bunda…

Baru kufahami makna dustamu pada kami.

Ketika di meja tengah ruangan rumah, Bunda sudah siapkan nasi di piring-piring untuk kami, Bunda pindahkan separo takaran milik Bunda pada kami…

Bunda berdusta … “Ini bunda tambahkan untuk mu, makanlah nak…, separo sudah sangat cukup untuk perut Bunda, karena ini hari Bunda tidak begitu lapar”

Ketika ikan dari pancingan Bunda masakkan untuk kami, tapi Bunda hanya makan yang menempel di di antara durinya sementara daging-dagingnya untuk kami.

Bunda berdusta… “Makanlah nak… Bunda lebih suka bagian duri, lebih enak”

Ketika makan satu telor dadar yang diiris-iris dan di bagi untuk kami, piring Bunda sengaja tidak diisi… “mana telor untuk Bunda?”

Bunda berdusta… “Makanlah dulu nak, nanti Bunda masak lagi”

Bunda …

Baru kufahami makna dustamu pada kami.

Ketika dalam kesulitan, sementara kami harus sekolah…

Malam itu kami terbangun dan melihat Bunda masih sibuk dengan banyak jahitan, sampai larut Bunda masih bekerja agar besok bias membayar sekolah dan kami tetap sekolah…

Bunda berdusta… “tidurlah lagi nak, ini masih malam dan besok tersenyumlah saat berangkat sekolah. Bunda tidak capek kok, ini hiburan bagi Bunda”

Ketika tubuh Bunda lemah dan terbaring sakit, Bunda tersenyum kepada kami dengan menahan rasa sakit yang teramat sangat, kami tak kuat menahan air mata kami…

Bunda berdusta… “ jangan menangis nak, coba lihat senyum Bunda, nggak ada apa-apa kan “

Bunda…

Baru kufahami makna dustamu pada kami

Begitu ingat dalam benak kami…

Ketika kami menginjak dewasa, betapa Bunda ingin memeluk kami, membisikkan petuah-petuah kepada kami, mendekap dan melantunkan doa-doa untuk kami, tapi kami malah lari dan mengunci kamar-kamar kami rapat-rapat, dan teriak… “kami sudah tidak kecil lagi”

Ketika kami harus segera membangun keluarga, betapa Bunda ingin mengajarkan bagaimana menjadi suami istri, mengajak diskusi bagaimana keluarga seharusnya berdiri. Tapi kami berargumen… “Ini hak kami, tolong Bunda jangan campuri”

Ketika Bunda mengajari bagaimana merawat bayi… tapi kata kami “Maaf Bunda ini jaman sudah berubah, tidak seperti dulu lagi”

Ketika Bunda memendam rindu ingin bertemu kami, tapi jawab kami “Maaf Bunda kami sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga kami…. Datanglah lain kali”

Sampai… ketika usia Bunda sudah lanjut dan perlu perawatan kami… kami begitu tega mengatakan “Janganlah tinggal di rumah kami, nanti akan pengaruh negative untuk anak-anak kami”

Bunda…

Baru kufahami makna dustamu pada kami.

Setelah Bunda harus menghadapi illahi rabbi…

RABBIGHFIRLI WALIWALIDAYYA WARHAMHUMA KAMA RABBAYANI SHOGHIRO

Ya Alloh ampunilah mereka… cintailah, kasihilah, sayangilah mereka sebagaimana mereka teramat sayang dan cinta kepada kami. Ampunilah segala dosa kami yang senantiasa durhaka kepada kedua orang tua kami…

.

Terinspirasi : Saudaraku Mufti Arkan/doa yang dibacakan dalam sebuah acara di Situ Gintung-Ciputat/Mudah2an Alloh Swt akan membalas semua kebaikanmu dengan Syurga Nya kelak…

Ikut Berduka yang teramat dalam : Atas meninggalnya Ibunda dari Ust. Nurul Khamdi/Innalillahi wa innaillaihi rojiun/Mudah2 alloh swt memberi tempat di taman Syurga Nya)

.


2 Komentar

  1. dwijelita mengatakan:

    Saya juga ikut berduka. Ibu saya juga sudah meninggal tepat 35 hr setelah saya menikah dengan suami pilihan ibu. Semoga Allah SWT mengampuni dosa2 nya.

  2. bapakethufail mengatakan:

    : dwijelita
    makasih…. besar rasa empati saya buat panjenengan
    amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: