Beranda » Ungkapan » MENANGIS

MENANGIS

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,948 tapak

”Sudah lah dik… mbok jangan nangis, kalau main bareng itu nggak boleh ada yang nangis. Kalau memang akibatnya nangis mending nggak usah main bareng…., dan mbak Syasa juga jangan nggoda adiknya gitu to mbak-mbak…. Udah tahu adiknya lagi nggak suka digoda, lha kok malah tambah di goda…. Ya adiknya nangis. Udah-udah… ayo pada saling maaf, ayo mbak Syasa minta maaf sama adiknya”

Begitu kata standar yang muncul apabila anak anakku lagi pada berantem.

Pulang kerja, pada kondisi badan capek, pikiran lelah, suntuk…. Sampai rumah lihat dan dengar anak anak kita berantem. Kadang kita terpaksa marah tapi kadang akan jadi penawar dari apa yang kita rasakan seharian di tempat kerja. Kadang-kadang memaksa untuk jengkel tapi kadang-kadang mereka menjadi lucu dan menghibur.

Menangis , …. Tapi itulah bagian dari kehidupan dan dunia mereka, bagian kehidupan dan dunia anak anak, kehidupan dan dunia yang indah, penuh rasa, penuh makna.

Satu hal yang kadang mengusik pikiran adalah masihkan kita punya air mata untuk menangis yang menjadi bagian kehidupan dan dunia kita sebagai manusia (yang kebetulan sudah menjadi orang tua) ??? Mungkin malu, gengsi, lemah, cengeng, menjijikkan, dan banyak lagi anggapan dan alasan sehingga kita mencoba memberikan jarak yang jauh dengan apa yang disebut menangis. Atau mungkin karena kehidupan dan dunia pekerjaan kita yang sehingga batin, nurani dan rasa menjadi bebal yang kemudian tidak ada lagi kemampuan untuk menggerakkan mesin produksi air mata serta mempekerjakan mata untuk kegiatan menangis.

Sangat tidak salah apabila kita sedikit mengingat beberapa nukilan tulisan bijaknya Gede Prama :

  • Kekurangan manusia yang mudah meneteskan air mata memang banyak, hanya saja ia memiliki sebuah kelebihan yang sulit dimiliki orang kebanyakan, yakni kepekaan yang membuat terhubung secara lebih dengan vibrasi-vibrasi yang lebih tinggi.
  • Bagi siapa saja yang sering merasakan vibrasi rasa, ia memiliki dua ciri : Mudah Menyentuh dan Mudah Tersentuh.
  • Air mata bukan wakil kelemahan, apalagi kecengengan, ia sejenis air mata kejernihan. Ia menetes tidak mewakili kesedihan, tetapi perpanjangan tangan dari getaran-getaran rasa.

Masihkah kita punya getaran-getaran rasa dan kepekaan yang memotovasi vibrasi-vibrasi jiwa yang pada akhirnya kita menjadi makhluk (manusia) yang mudah menyentuh dan mudah tersentuh ???


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: