Beranda » Pendidikan » PENDIDIKAN HARUS BERKARAKTER

PENDIDIKAN HARUS BERKARAKTER

Arsip

Jejak Langkah

  • 56,949 tapak

PENDIDIKAN KITA TELAH GAGAL melahirkan manusia. Sekolah memperlakukan peserta didik semata sebagai hard-disk yang siap dimasuki informasi apa saja, tetapi tanpa program untuk mengolahnya. Setiap hari mereka hanya belajar menyimpan informasi ke dalam otak, dan mengingat kembali saat ulangan. Sementara pendidikan agama nyaris tidak ada. Yang disebut sebagai pendididkan agama sebenarnya adalah pelajaran menghafal dengan materi agama, dan dalam partisi otak diberi nama pendidikan atau pelajaran agama. Ini berakibat sangat fatal terhadap perkembangan relegiusitas – lebih khusus lagi spiritualitas – peserta anak didik. Gara-gara penamaan pelajaran menghafal sebagai pendididkan agama, peserta didik mengalami dereligiusitas dan despiritualitas yang menyedihkan.

Model pendididkan yang mereduksi agama menjadi hanya seperti pelajaran bahasa indonesia, IPA atau bahkan lebih rendah dari itu, membuat potensi ruhiyah peserta didik tumpul dan mati. Bertambahnya jam pelajaran agama tidak menambah kekuatan ruhiyah mereka. Sebaliknya justru bisa rentan masalah. Mereka kehilangan kepercayaan pada agama, meskipun mereka tetap beragama. Hari ini, itulah yang sedang terjadi. Anak-anak kita banyak yang mengalami disorientasi hidup.

Reduksi agama tidak boleh diteruskan! Kekuatan ruhiyah peserta didik harus ditumbukan dan dikokohkan, sehingga menjadi penggerak hidup yang sempurna. Agama membangkitkan ideal-ideal, menyucikan maksud, meguatkan tekad untuk bergerak ke arah yang lebih baik, dan memberi makna atas setiap tindakan yang dikerjakannya.

Saya teringat dengan Lorraine Monroe, ketika ia harus menangani SMU dengan latar belakang siswa yang sebagian berantakan, broken home dan hidup dengan logika kekerasan ada dua hal yang ia garap. Pertama membangkitkan high level of expectation (tingkat harapan yang tinggi). Mereka dimotivasi untuk memiliki target-target, tujuan dan cita-cita yang besar. Kedua , meletakkan landasan berupa keyakinan (belief) yang kuat sebagai penggerak untuk melakukan dan mencapai yang terbaik (the spirit of exellence).

Proses untuk membangkitkan kekuatan ruhiyah berupa keyakinan yang kuat kepada Allah, serta kesadaran akan kasih sayang dan kekuasaan Allah harus mencakup semua aspek. Pendidikan dirancang untuk secara seimbang memberi sentuhan yang menggerakkan aspek kognitif, afektif, konatif, psikomotorik, dan spiritual anak. Tidak bisa dipisah – pisahkan. Pendidikan yang hanya menyentuh salah satu aspek saja, akan lemah dan rapuh. Boleh jadi tampaknya kuat, tetapi tidak memiliki landasan psikis yang kuat.

Ambillah contoh sederhana!!! Pembiasaan sholat pada anak jika hanya berhenti sebagai pembiasaan, akan mudah runtuh ketika anak mulai menemukan pemahaman yang berbeda dari apa yang dijalani. Pemahaman merupakan aspek kognitif. Hari ini kita melihat bagaimana anak-anak yang sedari kecil dibiasakan dengan aktifitas relegius, berubah secara drastis begitu mereka bersentuhan dengan komunitas yang berbeda atau wacana yang berbeda.

Hari ini kita juga melihat bagaimana anak-anak yang hanya diaktifkan kemampuan kognitif terendahnya berupa menghafal, bobrok rasa percaya dirinya. Mereka menyerap materi agama, tetapi tanpa rasa, tanpa penghayatan. Akibatnya, pengetahuan mereka banyak, tetapi hampir-hampir tak ada yang diingat ketika mereka menghadapi masalah. Seakan-akan mereka belum pernah bersentuhan sama sekali dengan apa yang tersimpan dalam ingatan mereka. Sebabnya, proses pendidikan yang salah. Perlakuan pendididkan yang mereka terima hanya menyentuh kemampuan terendah kognitif mereka.

Upaya-upaya untuk memberi perlakuan pendidikan yang secara terencana mengaktikan aspek kognitif, afektif, konatif, psikomotorik dan spiritual ini perlu kita mulai saat ini. Proses mematangkan arah pendidikan harus kita pikirkan bersama-sama sedari sekarang, sehingga cita-cita tentang pendidikan islam terpadu tidak hanya berupa bayang-bayang !

Sumber :

Mohammad Fauzil Adhim

Membuka Jalan Ke Surga (Menyempurnakan Nikmat Menuju Hidup Penuh Rahmat)_hal 179

Pustaka Inti, Oktober 2004


9 Komentar

  1. atmonadi mengatakan:

    Setuju Mas, memang pendidikan kita telah gagal menciptakan manusia terdidik karena kurikulum ditujukan untuk menciptakan manusia robotis yang kurang kreatif dan adaptif tapi hanya menciptakan robot dan peniru tanpa jatidiri. Saya prihatin sekali setelah memeriksa buku2 anak saya yang masih sd. Kok buku2nya dirancang hanya sekedar untuk dihapalkan. Tidak menyentuh tingkat pemahaman yang utuh. Entah apa yang ada di kepala pemikir pendidikan saat ini. Jangan2 mereka masih berpola dan berpatokan pada pola pendidikan kolonial yang hanya menyiapkan para priyayi semata.

  2. gama mengatakan:

    Artikel yg beginian yg aku suka. terima kasih infonya pak,
    maju terus pendidikan Indonesia.🙂
    salam kenal

  3. bapakethufail mengatakan:

    mas atmonadi dan gamma…
    terima kasih sekali komentarnya
    saya hanya mencoba membagi informasi dan mudah-mudahan bermanfaat

  4. maxbreaker mengatakan:

    yah, prihatin memang melihat kegagalan pendidikan Indonesia
    contohnya saja Pendidikan PPKn yang mengajarkan tentang moral dan bagaimana menjadi warganegara yang baik.
    nyatanya nilai PPKn banyak yang 9 tapi moralnya rendah😦
    salam kenal🙂

  5. bapakethufail mengatakan:

    makasih max…
    sepakat !!!!!!

  6. sditharbun mengatakan:

    pak imam, minta ijin copy paste materinya. bagus sih. matur nuwun. bagaimana kabarnya syasa?

  7. bapakethufail mengatakan:

    : sdit harbun
    alhamdulillah… Alloh memberikan kesempatan kita untuk berkomunikasi.
    * Tidak tahu harus mengatakan apa… ketika Syasa harus ikut pindah kemi sekeluarga ke jakarta. Dan maaf menjadi wajib, ketika saya sebagai orang tua tidak bisa hadir sendiri untuk pamitan ke pihak sekolah, sementara sekolah sudah begitu luar biasa membentuk pribadi anak saya. Terima kasih sekali atas semuanya….. buat pihak sekolah,bapak guru, ibu guru, dan semua pihak.
    * Soal materi… monggo silahkan. itu kebetulan ada tulisan di salah satu bukunya Fauzil Adhim yang kelihatannya kok agak menarik….. monggo2 mudah2an bermanfaat.
    * Alhamdulillah syasa baik2…. Salam dari Syasa buat Bu Guru dan temen2nya.

  8. hendri mengatakan:

    Saya sepakat Pak, sebagai mahasiswa calon pendidik…saya akan terus selalu mnegubah pola pendidikan di negara kita.
    Berusaha untuk menjadi seorang guru berkarakter kuat dan cerdas, selalu punya kompetensi dan berkontribusi bagi dunia pendidikan.

  9. […] : https://bapakethufail.wordpress.com/ Category: Diary Hendri | Tags: berkarakter kuat dan cerdas, indonesia, pendidikan | « […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: