Arsip Kategori: Pendidikan

Buah Dari Emosi Sang Ayah

Oleh Neno Warisman

Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu
kubilang pada ayahnya: “Subhanallah, dia benar-benar
mirip denganmu ya!” Suamiku menjawab: “Bukankah
sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak lelaki
ingin seperti aku.” Aku mengangguk. Suamiku kembali
bekerja seperti biasa. Continue reading


Mengatasi Kesulitan Siswa Autistik Saat Belajar di Kelas

Satu lagi postingan perihal Anak Autis yang di dapat dari www.autisme.or.id dengan judul Mengatasi Kesulitan Siswa Autistik Saat Belajar di Kelas . Postingan ini juga kami copy paste karena untuk menjaga keutuhan dari isi tulisan. Monggo silahkan di baca :

 

 

Siswa autistik sering harus berjuang keras agar dapat tetap duduk, tetap fokus, dan bertahan dalam mengerjakan tugas. Namun dengan dukungan serta penyesuaian yang tepat, siswa-siswa ini mampu meningkatkan waktu mereka fokus sambil tetap merasa nyaman bahkan pada saat diberikan instruksi dengan durasi lebih lama. Dalam artikel ini, lima pilihan diberikan untuk membantu para siswa ‘bertahan’ dalam situasi seperti tersebut diatas. Continue reading


Pembelajaran Demokrasi di Sekolah

Apa yang sudah kita ajarkan tentang DEMOKRASI pada anak2 kita. Mungkin kita (saya aja kali..!!!) tidak pernah terfikirkan untuk melakukan itu. Padahal sesuatu yang penting bagi mereka, karena merekalah generasi masa depan, generasi pemimpin, generasi pengelola demokrasi negeri ini.Sehingga untuk kesekian kali saya begitu angkat jempol dengan sebuah “sekolah” yang mengajarkan tentang demokrasi kepada siswanya, yang saya baca di blog sekolah (http://sekolahalamarridho.wordpress.com) dengan judul PRESIDEN dan PRESIDEN

Ada beberapa runtutan proses yang di lakukan sebagaimana meniru proses pemilu dan pilkada : Continue reading


Buku Anti Korupsi Untuk Anak Didik

Sebuah langkah yang harus kita dukung bersama. Langkah pemahaman dan pengenalan serta anti kampanye terhadap anak sekolah (taman kanak-kanak hingga SMA) segera hadir. Yang diawali dengan bacaan berupa buku anti korupsi.

KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi )saat ini tengah menyusun buku anti-korupsi untuk dibagikan kepada siswa tingkat taman kanak-kanak hingga SMA. Buku ini menjadi bagian dari pendidikan anti-korupsi yang mulai digalakkan di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan.

Rencana launching adalah 22 September 2008.

Nantinya masuk dan menjadi bagian pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN), Agama, hingga Matematika. Untuk TK, KPK membuat peraga berdesain dan berkonsepkan antikorupsi macam mainan ular tangga hingga puzzle. Agar pembelajaran lebih menarik, disesuaikan jenjang pendidikan.

Simultan dengan program pendidikan antikorupsi ini, KPK pun telah membuat program Warung Kejujuran dan Pelajar Terpuji yang menguji tingkat kejujuran siswa di sekolah.

Saat ini, KPK juga telah menggalang kerjasama dengan 74 perguruan tinggi di Indonesia terkait pendidikan, kampanye, dan penelitian tentang antikorupsi.

Harapan kita adalah segera terealisir niatan itu dan akan lahir generasi-generasi anti korupsi di negeri ini.

Tidak ada kata lain kecuali SAYA MENDUKUNG

Sumber : Dari berbagai sumber


Kekerasan Terhadap Anak

780.000 Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Sekolah

Purworejo, CyberNews. Tradisi bullying (gencet-gencetan) merupakan masalah yang telah membudaya dan menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Data yang dimiliki Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tercatat, 780.000 kekerasan terhadap anak terjadi di sekolah.

Pernyataan tersebut disampaikan Riana Mashar MSi PSi Psikolog UMM pada seminar nasional “Tindak Kekerasan (Bullying) di Sekolah” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Fisika, Universitas Muhammadiyah Purworejo, Rabu (13/8)

“Yang lebih memperihatinkan, bullying nyaris sudah terjadi di banyak sekolah selama bertahun-tahun. Kasus bunuh diri yang dialami beberapa siswa sekolah sebagian diakibatkan adanya bullying yang dialami anak. Fakta ini jelas memperihatinkan. Karena dampaknya sangat luar biasa terutama bagi korban,” ujar Riana. Continue reading


Manfaat Pendidikan Seni (Bagi Anak)

Tak dapat dipungkiri seni selalu ada disekitar kita. Karena itu, ada baiknya Anda menggunakan seni untuk perkembangan kecerdasan anak. Berikut ini sejumlah manfaat bila anak belajar seni :

1. Anak jadi lebih mudah menyerap masukan dan saran yang diberikan.

2. Kepekaan terhadap alam menjadi lebih baik karena terbiasa membuat sesuatu yang indah.

3. Memberikan kesenangan dan dapat membantu buah hati mempelajari berbagai ketrampilan yang perlu dikuasai, atau sesuatu dengan bakat mereka. Continue reading


Tips Mendongeng Untuk Anak

Tips Mendongeng ini kami peroleh dari sebuah buku Dongeng Balita dengan judul Buna Si Ikan Buntal dari DAR!mizan (maaf ini bukan promosi). Pada lembar pertama buku tersebut ada tambahan pengetahuan perihal mendongeng dengan judul “Tips Mendongeng dari … Kak Andi Y.A.”

Berikut saya kutip lengkap dengan harapan bermanfaat bagi kita semua sebagai orang tua ketika harus mendongengkan anak-anak kita, dan semoga anak-anak kita semakin suka membaca…

Tips Mendongeng dari … Kak Andi Y.A

Mengingat begitu banyak manfaat mendongeng bagi anak-anak, maka di perlukan persiapan yang benar-benar matang. Berikut ini, beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum Anda mendongeng. Continue reading


Kiat-Kiat Mendidik Anak

Kita sering mengalami dan menghadapi kendala dalam proses mendidik anak. Banyak hal yang mempengaruhinya. Keluarga, sekolah, dan lingkungan. Titik kesadaran akan kegagalan dalam proses tersebut ketika anak melawan orang tua dan melanggar norma-norma agama. Na’udzubillah (hanya kepada Allah kita berlindung).

Kak Seto memberikan kiat-kiat mendidik anak sebagaimana artikel dan ulasan pada majalah Wanita Edisi Juli 2008 adalah sebagai berikut :

1. Anak harus diajari keteladanan oleh orang tuanya. Keteladanan akan selalu membekas di hati anak. Karenanya, orang tua harus mendidiknya dengan kejujuran dan penuh tanggung jawab. jangan berharap anak bisa bersikap sopan santun dan ramah, kalau orang tuanya suka marah. Continue reading


Matikan Televisi Sehari Saja

Judul besar di Koran Republika Edisi Ahad 20 Juli 2008 yang berisi ajakan Matikan Televisi Sehari Saja dan kalimat yang di tulis lebih besar dan tebal “Kekerasan psikologis dalam tayangan sinetron mencapai 40 persen”. Sebuah judul dan kalimat yang sedikit menyentak dan menyadarkan kita (orang tua) akan “daya magis” dari sebuah barang yang bernama Televisi.

Saya coba paparkan dan kutip dari beberapa yang menjadi catatan dari tulisan tersebut :

Dari data Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) pada 2006 terungkap bahwa anak usia sekolah dasar punya kebiasaan menonton televise 30-35 jam per minggu plus 10 jam lagi untuk bermain video game. Setahun kemudian, YPMA kembali mencatat bahwa anak-anak negeri ini punya kebiasaan asyik menatap layar kaca hingga 1.600 jam per tahun. Padahal, waktu belajar di sekolah “hanya” 740 jam per tahun. Continue reading


Matikan TV dan Berbahagialah ( 2 -selesai- )

: Mohammad Fauzil Adhim

tv

Sabar. Ah… rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun.

Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki usia lima tahun. Atau… kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah payah berusaha ? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit.

Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya ? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap berfikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orang tua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungan temperamental, semakin cepatlah mereka naik darah. Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.