Kepala

Lho… kepalaku dimana ??? sebelum tidur tadi masih utuh, lengkap…. lha ini kepala kok nggak ada. Aku cari di seluruh kamar, lemari pakaian, kolong tempat tidur, hasilnya nihil. Aku keluar kamar, kubuka lemari buku, rak2, kamar anak-anak… sampai dapur. Tidak aku temukan juga kepalaku. Aku bangunkan istriku, dan dia terperanjat, “lha kepala bapak kemana? Kok nggak ada”

“sudahlah aku sendiri nggak tahu, sekarang bantu bapak untuk mencari kepala”.

Istriku sibuk ikut mencari kepalaku yang lepas dan hilang.

Sudahlah pak, biarin aja lah… mungkin kepala bapak sudah tidak betah nempel di tempatnya…. lagian seberapa penting sih bagi bapak arti sebuah kepala.

Ngawur kamu ini buk, ya penting lah…. bisa dibayangkan bapak ini… suamimu ini tanpa kepala. bagaimana bapak bisa di katakana wudhu kalau tidak berkumur di mulut, membasuh muka, membasuh telinga, dan rambut…. dan itu semua ada di kepala. Dan bagaimana shollat akan menjadi sempurna bila dahi tidak menempel ke tanah dalam sujud…. sementara dahi adanya Cuma di kepala. Bapak tidak bias berfikir dan berasional lagi buk… bapak kehilangan kepala… berarti kehilangan se otak-otak nya. Kalau bapak mau usul pada suatu rapat rt, bapak hanya bias diam karena mulut hilang berbarengan dengan hilangnya kepala.

Istriku hanya diam, menatap tapi tidak menunjukkan adanya kesedihan karena hilangnya kepalaku.

Ibuk ini bagaimana sih… lha agak sedih gitu lo… suami kehilangan kepala kok biasa-biasa saja… prihatin sedikit lah buk, minimal tunjukkan lewat raut muka ibuk itu….

Istriku senyum-senyum dan bergumam…. “kepala, berharga banget kelihatannya… masak sih segitu pentingnya sebuah kepala”

“Coba ibuk bayangkan kalau bapak tidak berkepala…. ketika berangkat kantor orang-orang akan melihat dengan herannya dan bertanya-tanya… “ eh, bapak itu tidak punya kepala ya… kok bias ya…. terus bagaimana bapak itu bias kerja… tidak punya kepala aja kok masih sempet-sempet nya berangkat kerja…. mau pamer ya…. biar dikasihani banyak orang ya….. bangga banget sih jadi manusia tidak berkepala ?”. “ terus bapak harus jawab apa buk ?”

“Ibuk bayangkan lagi kalau bapak dapat jatah ronda dan pingin nongkrong dengan tetangga…. orang-orang akan ngomong… eh bapak, bapak kelihatan ganteng ya bila tidak berkepala…. coba buk… itu kan sindiran yang luar biasa. Masak sih dia harus ngomong ganteng bila tidak berkepala. Yang namanya ngganteng itu kan ketika rambutnya indah, mukanya bersih, raut wajahnya menarik…. dan semua itu adanya di kepala.”

“Terus nanti bagaimana dengan anak –anak kita, dia tidak akan bangga lagi dengan bapaknya. Karena bapaknya tidak sebagaimana bapak-bapak yang lain. Terus teman-temannya akan ngledek… eh… bapakmu tidak punya kepala ya…. pruthul ya…. kepalanya jadi hantu ya…. jadi hantu gundul pringis… gundule ngglundung pringas pringis… apa mereka tidak malu buk?. Apa kehidupan social mereka kelak akan tidak terganggu ?”

“Lha kalau memang sudah hilang, sudah dicari kemana-mana nggak ketemu…. terus bagaimana pak. Lha mbok sudah di ikhlaskan saja, lha Cuma kepala aja kok pak-pak…. dan dia juga yang bikin kehidupan ini tidak nyaman, tidak tentram, dan suka bikin fitnah. Dan maksiat itu pun biasanya dating dari kepala…”

“Tidak nyaman bagaimana, tidak tentram bagaimana. Mana mungkin kepala menciptakan fitnah, justru ibuk itu yang memfitnah kepala yang mengomandani kemaksiatan. Itu fitnah buk… kepala tidak bernah menjadi penyebab dan asalnya maksiat”

“Bagaimana tidak pak…. bapak sadar nggak apa saja yang selalu menempel di kepala. Mulut…. mulut adalah corong bagi bagi organ kita semua, corong kesombongan, corong kebohongan, corong keingkaran, corong caci makian,… dan dia begitu akur dengan lidah…. sehingga pelarian diri dari tanggung jawab orang akan menyebutnya dengan bersilat lidah.”

Aku kaget, sangat kaget… tiba2 istriku yang biasanya pendiam sekarang begitu banyak kata-kata yang muncul darinya

“Sekarang mata… mata begitu banyak digunakan untuk melihat hal-hal yang tidak selayaknya. Kemungkaran, perzinahan adalah dari mata berangkatnya. Apakah bapak pernah melarang mata ketika melihat paha mulus seorang wanita, lebih2 ketelanjangan seorang wanita…. pernahkah. Pernahkan bapak mencoba menghentikan dan memerintahkan agar mata segera di pejamkan ketika melihat banyak orang-orang yang makan yang bukan dari haknya… pernahkah bapak pejamkan. Apalagi mengharuskan menyuruh mata untuk melaporkan ke otak biarlah otak yang memberi tugas ke tangan untuk menghentikannya.”

“Kok ibuk jadi marah-marah begitu…. sebenarnya apapun yang di lakukan di organ kepala sudah aku ingatkan dengan hati ini buk… tapi tetap tak mampu… , ya sudah kalau ibuk nggak mau ikut mencarinya. Jangan ngomel-ngomel begitu…”

“Tidak pak… masih ada yang harus aku omongkan. Soal telinga…. sudahkah bapak ajarkan tentang apa-apa yang boleh dan tidak untuk di dengarnya ? Selama ini dia dipakai hanya untuk mendengarkan hal-hal yang keji, hal-hal yang membuat sakit hati, hal-hal yang sebenarnya adalah kemubadziran… Sedangkan petuah, taujih, petunjuk dan saran-saran yang baik selalu di jauhkan darinya…”

Apalagi hidung…. yang wangi di laporkan ke otak dan disuruhnya ke mulut untuk mengatakan bau busuk. Sementara bau bangkai di mintakan ke otak dan di suruhnya mulut mengatakan wewangian.”

Belum lagi rambut,…

Sudah buk… sudah. Cukup…. cukup buk cukup. Jangan di teruskan…

Kami berdua diam… aku lihat matanya mulai sembab dan perlahan menetes ke pipinya… air mata kejujuran… air mata ungkapan hati…

Tapi tiba-tiba kami tersentak, pintu di ketuk dan salam dari suara yang sangat tidak asing bagi kami… Suara dari kepala kami yang hilang…

Maaf aku Cuma jalan2 sebentar…. nyari angin.

bapakethufail/pondokbambu/juli2008

Tentang bapakethufail

Mempunyai satu istri dan empat orang anak. Bekerja di instansi pemerintah tepatnya di Depkeu Ingin belajar untuk jujur.... minimal kepada NYA Hobi membaca (apa saja) Tampilkan semua tulisan oleh bapakethufail

17 Tanggapan to “Kepala”

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.