: Mohammad Fauzil Adhim
Sabar. Ah… rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun.
Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki usia lima tahun. Atau… kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah payah berusaha ? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit.
Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya ? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap berfikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orang tua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak melakukan apa yang diinginkan orang tua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungan temperamental, semakin cepatlah mereka naik darah.
Diluar itu, secara alamiah kita- anak-anak maupun dewasa – cenderung tidak siap melakukan pekerjaan lain secara tiba-tiba jika sedang asyik melakukan yang lain. Kalau Anda sedang asyik nonton pertandingan sepak bola, telepon dari Bos Anda pun bias terasa sangat mengganggu. Apalagi kalau gangguan itu berupa permintaan istri untuk membersihkan kamar mandi, keasyikan menonton atraksi kiper menepis bola bisa membuat emosi Anda mendidih. Apa lagi jika gangguan itu datang dari rengekan anak Anda yang minta diantar pipis ….!
Jika menonton TV sudah menjadi bagian hidup orangtua yang menyita waktu berjam-jam setiap harinya, pola perilaku yang reaktif, impulsif dan emosional itu lama-lama menjadi karakter pengasuhan. Semakin tinggi tingkat keasyikan orang tua menonton TV, semakin tajam “Kepekaan “ mereka terhadap perilaku anak yang “mengganggu” dan “membangkang”. Akibatnya, semakin banyak keluh kesah, kejengkelan dan kemarahan yang meluap kepada anak-anak tak berdosa itu. Lebih menyedihkan lagi kalau lingkaran negatif menumbuhkan keyakinan bahwa anak-anak (sekarang) memang susah diatur.
Matikan TV dan Berbahagialah
Satu masalah lagi yang sering dihadapi orang tua: merasa tidak ada waktu untuk mendampingi anak. Kesibukan selalu merupakan alasan klasik yang membenarkan hampir semua kesalahan kita. Kita tidak punya waktu untuk anak. Tetapi kita memiliki kesempatan untuk menonton TV begitu tiba di rumah, karena orang sibuk memerlukan hiburan. Sebuah alasan yang sangat masuk akal ketika istri tak lagi cukup untuk menghibur hati.
Nah… Apakah tidak ada jalan untuk membalik keadaan ? Matikan TV dan hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misalnya maksimal satu jam sehari semalam atau setengah dari itu, dan tentukan Anda hanya melihat tayangan yang benar-benar bergizi. Bukan cerita-cerita kosong yang tidak berarti.
Begitu Anda mematikan TV dan mengalihkan hiburan dalam bentuk bercanda dengan anak istri, insya Allah Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan ganda sekaligus. Anda mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercanda, maupun bercakap-cakap – bukan sekedar berbicara dengan orang-orang yang Anda cintai; Anda juga menabung kesabaran; sekaligus Anda membangun kedekatan hati dengan keluarga.
Al Qur’an membedakan berbicara dengan bercakap cakap (ngobrol). Berbicara bersifat satu arah, sedangkan ngobrol bersifat mengalir dimana kita saling mengajukan pertanyaan, tapi bukan berupa Tanya jawab. Ngobrol membuat hati semakin dekat satu sama lain. Ngobrol juga menjadikan perasaan kita lebih hidup. Tentu saja, apa yang kita obrolkan juga berpengaruh.
Didalam surat Ash Shaaffaat, Allah ‘azza wa jalla menunjukkan bahwa ngobrol merupakan salah satu kenikmatan surga. Allah Ta’ala berfirman, “Disisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik. Lalu sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain sambil bercakap-cakap” (Ash Shaaffaat -37- : 48 – 50)
Ya, bercakap-cakap dengan obrolan yang baik. Inilah kenikmatan surga yang bisa kita hadirkan di rumah kita tanpa harus mati terlebih dahulu. Pada saat ngobrol, kita bias memberi dukungan sekaligus dorongan positif bagi anak-anak kita. Ini merupakan salah satu yang sangat mereka perlukan untuk mengembangkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Dukungan dan dorongan positif yang kita berikan pada saat yang tepat, sangat berperan untuk membangun diri dan percaya diri mereka. Tetapi ini sulit sekali kita berikan kepada mereka jika kesabaran tidak ada, waktu tidak punya dan keakraban tidak terjalin. Kita berbicara kepada mereka, tetapi tidak komunikasi. Kita mendengar suara mereka, tetapi tidak mendengarkan perkataan dan isi hatinya. Sebabnya, otak kita sudah penat karena beban kerja dan tayangan TV yang menyita energy otak kita.
Nah… Omong-omong, kapan terakhir kali Anda ngobrol dengan anak Anda? Sudah lama… ?
Sumber : Mohammad Fauzil Adhim/Suara Hidayatullah/Juli 2008/Jendela Keluarga/Kolom Parenting

..heeh.. bener juga.. tipi emang banyak memberi pengaruh yang buruk.. sangat buruk dalam beberapa kasus.. untungnya anak2 di rumah gak ada yg demen nonton tv, cuma mbok-nya, itupun hanya acara gosip2an yg gak mutu itu… sedihnya, kadang2 si mbok sangat murka jika anak2 “nggangguin” saat dia nonton acara tersebut..
Komentar oleh ariefdj — Senin, Juli 14, 2008 @ 10:26
^_^ Untunglah gak pasang TV di kontrakan. Selain hemat listrik, hemat waktu, juga terhindar dari pengaruh-pengaruh media yang buruk. Saya lebih senang cari-cari berita (terutama di Internet).
Trims, ulasannya pak!
Komentar oleh insansains — Senin, Juli 14, 2008 @ 1:25
televisi itu tontonan yang bisa jadi panutan…
Banyak orang tua yang geleng-geleng lihat cara sisiran anaknya *mohak mode on* karena nonton TV
Komentar oleh tukangobatbersahaja — Senin, Juli 14, 2008 @ 5:36
saya sih ga suka nonton tivi memang kecuali kalo lagi disambungin sama dvd
Komentar oleh natazya — Senin, Juli 14, 2008 @ 10:14
ayo bikin blog dng nama domainmu sendiri, ada yg murah di idbloghosting.com
Komentar oleh idbloghosting — Selasa, Juli 15, 2008 @ 1:33
Matikan tipi dan berbahagialah, Sip !!!
Komentar oleh pingkanrizkiarto — Selasa, Juli 15, 2008 @ 7:05
Saya sangat setuju dengan penggalan pernyataan:
Matikan TV dan hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misalnya maksimal satu jam sehari semalam atau setengah dari itu, dan tentukan Anda hanya melihat tayangan yang benar-benar bergizi. Bukan cerita-cerita kosong yang tidak berarti.
Memang banyak tontonan TV yang kurang mendidik, dan ini sangat memprihatinkan….
Komentar oleh Hellen — Rabu, Juli 16, 2008 @ 9:18
Benar juga Pakde, acara TV sekarang banyak mudorotnya dari pada manfaatnya…
Komentar oleh Catatan Kecik — Rabu, Juli 16, 2008 @ 2:33
yuk, kurangi nonton tv, lebih asyik baca buku!
bukan begitu?
Komentar oleh ahsinmuslim — Kamis, Juli 17, 2008 @ 11:09
yup, setuju kang im, …..matikan tipi hidupkan hati…
Komentar oleh masandhy — Kamis, Juli 17, 2008 @ 1:22
Ehmmm..setuju banget pak…kapan ya saya dan keluarga?
Komentar oleh abiehakim — Kamis, Juli 17, 2008 @ 3:57
TV emang merusak
Komentar oleh achoey sang khilaf — Kamis, Juli 17, 2008 @ 7:04
Maksudnya kebanyakan acaranya
Komentar oleh achoey sang khilaf — Kamis, Juli 17, 2008 @ 7:04
Emang bener… sekarang TV sudah bukan lagi sebagai alat rekreasi keluarga. Karena kebanyakan acaranya smakin buruk untuk si kecil…
Saya setuju skali sama postingan Bapak yang ini, meski saya belum bisa 100% hidup tanpa TV, setidaknya sekedar untuk nonton bola di malam hari saja. Hehehe
Komentar oleh Ruth — Kamis, Juli 17, 2008 @ 7:44
:ariefdj, insansains, tukangobatbersahaja, idbloghosting, pingkanrizkiarto, Hellen, Catatan Kecik, ahsinmuslim, masandhy, abiehakim, achoey sang khilaf, dan Ruth
terima kasih komentarnya, semuanya… jadi kita agak sepakat jauhkan anak dari tv…. minimal menguranginya….
Komentar oleh bapakethufail — Jumat, Juli 18, 2008 @ 8:27
Belum Baca Novel Ketika Cinta Bertasbih? Download disini…
Komentar oleh Catatan Kecik — Jumat, Juli 18, 2008 @ 3:54
Salam
Ah iya, jadi nyadar kadang keasyikan di depan kompi atau TV malah mengabaikan anak2 yang butuh “didengar” trims Pa, sangat mencerahkan.
Komentar oleh nenyok — Minggu, Juli 20, 2008 @ 11:02
kalo TV-nya mendidik sih bisa jadikan refferensi,,,
But, sekarang yang ada hanya gossip, berita aja ada yang nggak bener alias hanya mementingkan rating. So, siapa ya yang mau bikin sta TV dengan content yang mendidik dan menjadi reffernsi terbaik menuju Indonesia bermartabat?
Komentar oleh duniabaruku — Minggu, Juli 20, 2008 @ 9:58
saya sudah mulai mengurangi jam TV buat anak Pak
mudah2an mereka bisa memilah dan memilih acara2 yang positif nantinya
Komentar oleh Menik — Minggu, Juli 20, 2008 @ 10:45
Dah beli buku sekolah Anak-Anak belum???
Komentar oleh Catatan Kecik — Selasa, Juli 22, 2008 @ 9:08
setuju pak imam…. tvku sih lebih sering berfungsi utk nonton dvd / vcd. males nonton acara tv sih. kalo mau cari berita jg mending aku baca majalah or internet
Komentar oleh mbakpipit — Rabu, Juli 23, 2008 @ 5:28
yup..betol sekali,,,aku juga skr lagi mikir2 knapa dua keponakanku tiba2 berubah sifatnya jadi egois, sulit di nasehati, suka bicara keras. ah…stelah baca tulisan ini jadi sadar klo semua itu ternyata virusnya….adalah TELEVISI.!!
Komentar oleh nirmana — Selasa, Juli 29, 2008 @ 6:06
alhamdulillah,
saya sampai saat ini sengaja nggak ada TV di rumah,
karena saya mengamati karakter anak tetangga juga sangat terpengaruh oleh TV ini.
dulu sempat anak saya yang besar suka nonton TV di tetangga, nih jauh lebih berbahaya karena nggak ada yang ndampingi (biasanya cuma didampingi PRT tetangga)
sekerang setelah sekolah, kebiasaan tersebut sudah nggak muncul lagi, sibuk belajar ya nak? smoga jadi anak sholihah nak, amin
Komentar oleh agus suhartono — Senin, Agustus 4, 2008 @ 9:32
hi..though i don’t really understand ur language..i still like d way ure blog was organized..
so neat..
hope u cud visit my blog too..
Komentar oleh badz — Kamis, Agustus 7, 2008 @ 12:41
maaf mas, saya boleh minta alamat email kang fauzil adhim?
Komentar oleh riri — Selasa, September 23, 2008 @ 2:01
tolong kirim ke riri.putranti@yahoo.com kalau bisa sebelum lebaran ya. makasih sebelumnya.
Komentar oleh riri — Selasa, September 23, 2008 @ 2:03