Muhammad Izza Ahsin Sidqi adalah anak dari orang tua yang menyandang predikat guru teladan. Tapi seolah bertolak belakang dengan profesi orang tuanya.
Izza keluar sekolah di usia 15 tahun bukan karena anak malas. Apalagi kekurangan biaya. Bagi mantan siswa sebuah SMP terfavorit di kota Salatiga ini, formalitas sekolah membuatnya terkekang.
Tentu saja, hal ini ditentang oleh orang tuanya. Suasana menjadi tegang,. Namun, setelah delapan bulan negosiasi, akhirnya hati orang tuanya pun luluh.
Tak lama, janji itu menjadi bukti. Izza meluncurkan buku perdananya berjudul “Dunia Tanpa Sekolah”. Buku yang diterbitkan Penerbit Read! Ini berisi biografi, ide dan kritik Izza terhadap system sekolah formal. Hingga kini bukunya telah terjual lebih dari 1.000 copy. Dan buku keduanya juga sudah siap diterbitkan.
“Belajar di sekolah yang mengajarkan banyak mata pelajaran itu ibarat menimba air dari dalam sumur dengan susah payah, lalu mengguyurnya kembali ke tempat semula,” ungkap Izza yang sejak kecil hobinya membaca buku.
Izza mengaku landasan kontroversialnya ini adalah dengan nama Allah, untuk Allah, dan karena Allah. “Mudah-mudahan buku yang saya hasilkan nantinya menjaring perhatian banyak orang. Bukan sekedar royalty, publikasi atau menjadi selebriti, melainkan agar orang laindapat memetik manfaat yang luar biasa setelah membacanya,” ungkap Izza.
“Lagipula, Allah kan tidak pernah melarangku keluar sekolah,” tambah Izza.
*Jidi al Kindi/Suara Hidayatullah
Sumber : Suara Hidayatullah/Juni 2008/siapa dia.
Juli 1st, 2008 at 10:32
Saya yang juga lulusan S3 (sd, smp, sma) juga sangat setuju kalau bentuk pendidikan formal yang sekarang tidak lebih bagus dari model mendidik jaman saya sekolah dulu, orientasi siswa sekarang cuma nilai dan nilai sementara wawasan dan proses berkreasi sama sekali tidak etersentuh apalagi wawasan kebangsaan, sehingga hasilnya ‘produk’nyapun juga amburadul seperti yang bisa kita lihat di IPDN dan institusi pendidikan lain, begitu lulus punya jabatan, moralnya udah tidak bagus dan siap untuk segera bergabung dengan team korup
Juli 2nd, 2008 at 2:30
Tidak semua begitu to ? ada juga yang menikmati sekolah, ngotot tetap sekolah dan meraih apa yang diimpikannya lewat sekolah ( ter-ilhami ma Laskar Pelangi ). Ya sebenernya kalo kata ibu saya sih, intinya jadi pinter tu nggak ada ruginya, perkara nanti ilmu-nya kepakai ato nggak, siapa sih yang bisa tau pasti apa yang ada di depan kita ? Terus terang kalo saya disuruh njebol anak saya dari sekolah, ya saya ndak berani.
Tapi salut juga sama mas Izza ini, belum tentu diantara seribu ada satu orang seperti dia. Semoga dengan terbitnya buku itu -seperti kata penulisnya- agar orang lain dapat memetik manfaat yang luar biasa.
Allah memang tidak pernah melarang seseorang untuk keluar sekolah, karena hidup inipun sebuah sekolah….
Juli 3rd, 2008 at 9:56
: balidreamhome
tidak ada kata selain sepakat dengan pendapat anda….
makasih komentarnya…
: pingkanrizkiarto
kalau kita yang njebolin mungkin jangan lah…. kan anaknya masih mau sekolah.
Tapi kalau anaknya yang mau njebolin sendiri gimane ????
makasih pink…..
Juli 5th, 2008 at 8:08
Salam
Subhanalloh, masih bocah sudah begitu bijak dengan keyakinan dan courage yang begitu besar. *salut* semoga tercapai segala mimpinya. Amin
Juli 14th, 2008 at 7:32
: nenyok
makasih banget kunjungan dan komentarnya….
Juli 14th, 2008 at 10:36
sekolah formal memang bisa bikin kita pinter tapi sekolah formal umumnya kurang menaruh perhatian pada aspek sosial, motivasi anak, kemandirian dan perkembangan EQ. Anak-abak butuh bantuan orang tua dan lingkungan yang mendukung perkembangan pribadinya
Bukunya bagus,,jadi kepingin baca
Juli 15th, 2008 at 10:33
waduh..itu khusus untuk anak pintar kali ya…kalo tanpa sekolah seh….seibu satu anak itu pastinya, susah ga ya dicontoh? mgkn kita perlu tau lwt bukunya….
btw mas Imam..inget atuh , malah mkgn mas Imam yg lupa klo ketemu aku..he he..jalan-jalan jg ke http://juneyuanita@multiply.com ya..itu blog pribadi, klo yg di atas boleh jg diliat
bapakethufail:
soalnya une sekarang pake jilbab, jadi tomboynya kurang… makasih komentarnya…
Juli 15th, 2008 at 11:20
2 Tahun sudah dirimu terbebas dari sistem yang membelenggu. Sudah bukan seorang anak yang berusia 15 tahun, tapi seorang adik yang telah menapaki usia 17 tahun. usia dimana segala sesuatu yang dicari mungkin dapat terjawab.
Seperti pertanyaan yang sering ada dalm dunia tulis tanpa batas, yang sering adik izza tanyakan, apa yang masih kurang dan apa yang dapat dilakukan. Seperti beberapa hari ini, kita telah bertemu di dalam dunia tersebut, berbagi cerita dan rasa keingintahuan.
Bila kakak dapat lebih membantu, jawablah dengan hatimu seperti kau menjawab pertanyaan dua tahun lalu, karena hati tidak pernah berbohong. Bila jawaban itu telah ada, kita dapat lebih berkomunikasi dan menuangkan keinginan yang sama, karena kakak yakin bahwa izza telah menemukan jawabnya.
Dan terima kasih atas kunjungannya yang telah lalu, semoga kakak tidak mengganggu.
Salam dari seorang kakak yang berpikiran sama, dengan tidak melupakan hak dan hal lainnya.
Lakum dinukum Waliadin.
Juli 19th, 2008 at 3:17
saya sudah membaca buku buatan Izza yang berjudul dunia tanpa sekolah. saya sangat kagum dengan Izza, bisa perfikir jauh, dan komitmen dengan pilihannya sendiri. meskipun saya dengan Izza seumur, tapi saya belum pernah berfikir sejauh itu. saya sangat mengerti sekali dengan penolakan Izza terhadap sekolah, tapi bukan berarti saya juga tidak setuju dengan sekolah. kurikulum dan metode belajar dari guru lah yang kurang tepat dan yang seharusnya di sesuaikan dengan kemampuan kita sebagai siswa, mungkin hal itu yang dilupakan banyak guru-guru kita. ya gak??
tuk Izza, saya sangat kagum sekali sama kamu. berjuanglah dan tetap komitmen dengan pilihan kamu itu. karena dunia ini adalah pilihan dan setiap pilihan pasti punya kosekuensi atau tantangan, dan tantangan itulah yang harus kamu hadapi.
oia, boleh gak saya minta alamat imel Izza? siapa tau kita bisa diskusi.
ok deh, segini aja dari saya. wassalamualaikum wr.wb
Mei 1st, 2009 at 4:58
salam kenal,,
q siswa SMP yg sedih banget…soalnya guru2ku galax2, apalagi yg guru matematika…huh nyebelin deh..
Mgkin q persis izza, bedanya lw q gak keluar dri sekolah..
habiss gmana ya..????
Eh boleh minta alamat email izza gak???
Kalo punya alamat email dia, tolong kirim ke email sy (jue_hyuga@yahoo.com)…
Thank you banget……..
Juni 29th, 2009 at 12:10
guru mengaji saya berkata,belajar tak hanya dari bangku sekolah
alam dan kehidupan sesungguhnya telah mengajari banyak hal
tapi jujur saja membaca apa yang diajarkan kehidupan ternyata tidak gampang
seperti yang dikatakan seorang sahabat saya
wah jadi kepengen ketemu izza, pola pikirnya tidak biasa
dimana bisa ketemu dia ya?
September 7th, 2009 at 10:37
assalamualaikum…
sukses ea om..
q udah baca tentang buku om yg dunia tanpa sekolah..
om, stelah dunia tnpa sekolah ada buku lagi gag om??
q nggu2 bku baru karangan om..
kalo bisa ya q diajarin bagaimana bisa menulis kayak om…
q pgen bisa menulis kyak om..
trims..
wassalam…
September 7th, 2009 at 10:39
tolong saya carikan alamat email om izza donk..
pengen lebih kenal..
November 23rd, 2009 at 9:02
saya baru saja dari toko buku dan mendapati DUNIA TANPA SEKOLAH di salah satu etalase, saya sangat tertarik melihat tag yang disematkan di bawah judul…. ” seorang anak 15 tahun…” , berarti segenerasi dengan saya !
membuka halaman terakhir adalah hobi saya, dan saya menemukan dalam buku tsb bahwa Izza adalah orang yang saya cari, se-visi dengan saya, yang beranggapan bahwasanya bukanlah pelajaran sekolah itu tidak bermanfaat, tetapi dalam konteks ini adalah pelajaran di sekolah tidak mengajarkan konsep yang fundamental dalam mempelajari pelajaran tersebut…terus terang saya bingung, buat apa menghafal tabel periodik unsur, rumus sin cos tan, dan lain – lain…
saya sekarang duduk di kelas 12 SMA, 4 bulan menjelang UN ! mengapa saya masih bertahan di sekolah saya padahal saya yakin diri saya se-visi dengan Izza ? ini yang ingin saya diskusikan dengan Izza dan mungkin teman2 sekalian…
saya tidak bisa menjustifikasikan bahwa TIDAK SEKOLAH adalah pilihan yang tepat ! bagaimana mungkin seluruh anak tidak disekolahkan ? setiap orang memiliki kecenderungan dan ketertarikan masing – masing sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain demi kemaslahatan Ummat, jadi jangan kemudian sebagai seorang ayah atau ibu memaksakan anaknya menjadi Izza – Izza lain yang DO dari sekolah dan menjadikan mereka penulis !
Tetapi yang harus kita pelajari dari Izza adalah bagaimana mengalokasikan bakat dan minat anak agar berkembang sesuai dengan kecenderungannya…
Mei 14th, 2010 at 4:53
inilah citra pelajar tegas, lugas, cerdas dan berpandangan luas, namun sayang dan sangat sungguh disayangkan, dinegeri yang seluas ini hanya sedikit bahkan terbilang langka memiliki putra seperti ini dan bahkan ia harus berperang dan bertarung baik secara syaraf (tertekan) maupun fisik (terisolir) demi cita-cita dan keyakinannya yang teguh.
kapan kita akan memiliki izza-izza yang teramat langka ini , haruskah kita selaku orang tua akan sadar jika lapangan kerja dan sekolah sudah benar** sangat langka dan sebegitu mahalnya ……. hanya demi maraih dan mengandalkan selembar surat sakti tak bernilai (IJAZAH).
Mei 14th, 2010 at 5:03
benar kata izza….. ” kita adalah diri kita danbukan yang lain”, andai dunia dan para guru di sana mau maenghargai dan menganggap anak didiknya sebagai sahabat bukan sebagai budak OOooohhhhh… alangkahindahnya dunia pendidikan kita dan mungkin kita dapatbisa bersaing dengan dengan negar**yang maju dalam pendidikannya, karena hanya dengan Hati-Lah Ilmu itu dapatt tersalurkan dengan baik dan dengan sendirinya ia akanberkembang dan mengembangkan si Pemiliknya di masa yang akan datang……
Marilah kita rubah pardigma pendidikan sekolah yang sangat Militeris agar kelak tidak terlahir kembali para MIlter ** Terdidik…. (baca: Guru). yang semakin angkuhdan sombong …….. !!!!!!.
Januari 3rd, 2012 at 9:26
saya sudah baca bukunya..salutlah buat anak usia 15 thn bisa mengarang buku 252 hal.