Kukira kuberada di dalam masjid
Sehingga Engkau mendengar begitu jelas
Tentang hidup yang kujalankan
Tentang makan yang telah kutelan
Tentang minum yang begitu nikmat kuteguk
Kukira ku berada di masjid
Sehingga pertobatan ini dengan mudah Engkau terima
Akan kesalahan silam yang kadang sedikit masih kujalankan
Akan lingkungan yang tak bisa kuucapkan
Kukira kuberada di masjid
Namun rupanya ada dibelantara
Yang tak jelas arah anginnya
Yang tak jelas siang dan malamnya
Yang tak jelas ujung akhir perjalanannya
Kukira kuberada di dalam masjid
Sehingga di sekitarku adalah orang-orang yang sedang mengagungkanMu
Dan para makmum yang sedang bersujud padaMu
Yang pasrah akan hidup dan matinya hanya padaMu
Kukira kuberada di dalam masjid
Rupanya hanya sajadah kecil yang sudah koyak
Dan dekil karena debu
yang selalu kubersihkan dalam sujud-sujudku
Kukira kuberada di dalam masjid
Rupanya hanya sebuah suarau kecil yang tak lagi kokoh tiangnya
Dan bocor atap-atapnya
yang ku sangga dan kutambal dalam doa-doa
hm….to the point. tanpa metafora yang rumit, langsung menuju sasaran tembak. ada roh Taufiq Ismail kayaknya….teruske dab..
Komentar oleh Kang Hasan — Jumat, Mei 9, 2008 @ 9:21
makasih kang….
Taufiq Ismail????? ya kang hasan sangat tidak salah
karena aku adalah salah satu pengagumnya….
akhirnya “roh dan jiwanya” yang coba aku dekati
Komentar oleh bapakethufail — Jumat, Mei 9, 2008 @ 9:52
mas imam…. boleh juga tuh aku ikut belajar bkin blog….
Komentar oleh pipitsenja — Senin, Mei 12, 2008 @ 12:33
Kukira kuberada dalam masjid..
Rupanya ku terlelap di berandanya,
Terhitung doa yang kurangkai..
Sedikit dzikir yang kuderai..
tak cukup buat singkirkan gemeletak kakiku
meski cuma sampai sebatas pintu
Komentar oleh andhy_joel — Senin, Mei 12, 2008 @ 6:13
om andhy….
seandainya dipintu pun adalah Alloh memberi keridhoan
cukuplah, karena ridhoNya adalah rahmat kita
Komentar oleh bapakethufail — Senin, Mei 12, 2008 @ 6:20